Senin, 14 Januari 2019

Satire Jokowi yang Memancing Lawannya...

Loading...
Loading...
Presiden Joko Widodo menyapa warga sekitar Tambora setelah meninjau kegiatan Pemodalan Nasional Madani alias PNM di Lapangan Bola Perisma, Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Rabu (8/1/2019). PNM yang akan ditinjau Presiden, yakni PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera). PNM Mekaar menekankan pada sisi membantu ibu-ibu prasejahtera menjadi sejahtera dengan cara memberi modal usaha dengan bantuan pelatihan serta pengembangan usahanya lewat bisnis usaha.

Bruniq.com - Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo buka-bukaan menceritakan rasa geramnya. Dia menyampaikannya ketika menghadiri deklarasi dukungan alumni perguruan tinggi negeri di Gelora Bung Karno, Sabtu (12/1/2019).

Jokowi pun membahasnya dengan bahasa-bahasa satir.

Meski Jokowi tak menyebutkan nama, peserta yang hadir seolah tahu kegeraman itu ditujukan untuk siapa.

Kubu calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pun memberikan respons.
Sindiran Jokowi
Dalam acara itu, Jokowi menyinggung frasa "Indonesia punah" yang pernah diucapkan Prabowo sebelumnya.

Mulanya Jokowi mengaku kesal dengan pihak yang menyebar pesimisme di masyarakat.

Pesimisme tersebut dia nilai melemahkan bangsa Indonesia yang tantangannya luar biasa ke depan. Untuk menghadapi tantangan itu, dibutuhkan optimisme bukan pesimisme.

"Kita harus optimistis, kita harus optimistis, harus optimistis. Jangan sampai ada pesimisme di antara kita," kata dia.

Jokowi tidak ingin ada yang menyebut Indonesia akan punah. Sesulit apapun kondisi bangsa, rasa optimis harus tetap ada.

"Jangan sampai ada yang bilang Indonesia bubar, enggak ada. Jangan sampai ada yang bilang Indonesia punah, enggak ada. Tidak ada. Saya kadang jengkel dan marah untuk hal-hal seperti itu," kata Jokowi.

Selain membahas pesimisme yang ditebarkan di masyarakat, Jokowi juga menyinggung pentingnya pengalaman dalam memimpin sebuah negara.

Jokowi menceritakan tantangan yang dihadapinya mulai ketika menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, sampai Presiden.

Pertama kali menjabat sebagai Wali Kota Solo, dia pusing karena dunia birokrasi sangat berbeda dengan dunia bisnis yang digeluti sebelumnya.

"Hampir 1,5 tahun prosesnya saya belajar, belajar, belajar, belajar, belajar, pagi siang malam. Karena berbeda sekali kita mengelola institusi bisnis dengan kita mengelola sebuah pemerintahan, meskipun dalam lingkup kecil sebuah kota," lanjut dia.

Masa penyesuaian itu butuh waktu satu tahun. Baru pada tahun kedua, Jokowi mengerti bagaimana menjalankan birokrasi secara cepat.

Pengalaman ini menjadi bekal Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 2012 hingga Presiden ke-7 RI pada 2014.

"Karena saya memiliki basic pengalaman di kota dan di provinsi, waktu masuk ke lingkup pengelolaan negara, manajemen negara, ya saya biasa-biasa saja karena sudah memiliki pengalaman itu," ujar Jokowi.

"Di sebuah kota saja, saya memerlukan 1,5 sampai 2 tahun untuk belajar. Apalagi belum punya pengalaman langsung mengelola negara? Butuh waktu berapa tahun, pertanyaan saya?" lanjut dia.

Sandiaga ceritakan pengalaman Prabowo
Sindiran satire Jokowi memancing lawan politiknya untuk berbicara. Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengatakan Prabowo juga punya pengalaman yang tidak boleh dinafikan.

"Pak Prabowo punya pengalaman di bidang militer, di bidang usaha membangun politik. Kami dari partai yang bisa dibilang partai kecil di 2008, Beliau sekarang memimpin partai yang besar. Ini perlu kepemimpinan yang betul-betul mumpuni," ujar Sandiaga.

Sandiaga mengatakan pencalonan dirinya dan Prabowo merupakan bentuk demokrasi. Dia dan Prabowo merasa terpanggil untuk membenahi Indonesia karena menilai pemerintah sekarang belum memberi keadilan dan kesejahteraan.

Namun jika makna ucapan Jokowi adalah hanya yang berpengalaman yang bisa mencalonkan diri, dia menilai itu sangat aneh.

"Akan sangat aneh kalau ada pernyataan tidak boleh mencalonkan diri kalau belum pernah memimpin negara. Berarti hanya presiden sebelumnya yang boleh, sementara Pak SBY sudah 2 kali mencalonkan," kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Priyo Budi Santoso mengatakan ucapan Jokowi seolah men-downgrade Prabowo. Menurutnya, Jokowi seolah-olah berpikir hanya dia yang berpengalaman.

"Jangan menyepelekan Pak Prabowo kurang pengalaman, jangan hanya menyepelekan dan dianggap dituding tidak punya pengalaman," kata Priyo.

Dianggap keluar dari style
Priyo pun bingung Jokowi sampai keluar dari gayanya akibat jengkel terhadap Prabowo. Khususnya terkait pidato Prabowo yang menggunakan frasa "Indonesia punah".

"Saya agak terkejut saja Pak Jokowi keluar dari style-nya beliau. Akhir-akhir ini beliau marah dan jengkel, mengomentari balik terhadap ide-ide besar yang dilakukan dan dipidatokan oleh Pak Prabowo," ujar Priyo.

Padahal, kata Priyo, Jokowi sendiri salah kaprah terhadap pidato Prabowo. Jika paham, Jokowi pasti tidak akan jengkel terhadap pidato Prabowo tentang Indonesia punah.

Priyo mengatakan tokoh nasional seperti Bung Hatta pernah mengatakan Indonesia akan tenggelam di dasar lautan jika menjadi embel-embel negara lain. Pidato Prabowo memiliki makna yang sama dengan hal itu.

Sebenarnya, kata Priyo, sebuah kehormatan ketika pidato Prabowo mendapat respons dari Jokowi.

"Tapi sayangnya beliau jengkel dan marah, itu yang kami agak sesalkan. Tetapi kami tetap menghormati reaksi balik dari Pak Jokowi," kata Priyo.

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post