Selasa, 01 Januari 2019

Istri Diambil dari Hutan, Pemberontak Ali Kalora Terus Saja Melawan

Loading...
Loading...


Bruniq.com - Istri Ali Kalora, Tini Susanti Kaduku alias Umi Fadel, telah tertangkap dua tahun lalu. Kini, Ali Kalora dan kelompoknya muncul lagi dengan terus menebar teror. Mereka memutilasi warga dan menembak polisi di Parigi Montong, Sulawesi Tengah.

Melihat ke belakang, Umi Fadel ditangkap di Poso Kota, Sulawesi Tengah, pada Selasa (11/10/2016) pukul 16.00 WITA. Dia ditangkap tanpa ada perlawanan. Sebelum ditangkap, Umi Fadel selalu menemani Ali Kalora bergerilya di pedalaman hutan Sulawesi Tengah.
Tini ditangkap oleh Satuan Tugas Tinombala gabungan Tentara Nasional Indonesia-Kepolisian RI dalam keadaan hamil 8 bulan. Saat itu, Umi langsung dirawat di di Rumah Sakit Bhayangkara Palu. Polisi menyatakan proses penangkapan dilakukan dengan soft, tanpa adanya aksi yang menjurus kekerasan.

"Karena sedang hamil maka harus dilakukan perawatan kesehatan," kata Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah yang saat itu dijabat AKB Hari Suprapto, Rabu (12/10/2016).


Sehari kemudian, anggota Polres Parigi Moutong melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Setelah olah TKP, mereka diserang dengan rentetan tembakan. Dua anggota polisi yaitu Bripda Baso dan Bripka Andrew tertembak dalam baku tembak.
Dalam perjalanannya, Tini dan Nurmi Usman, istri dari anak buah jaringan teroris Santoso divonis 3 tahun penjara. Sidang vonis digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur.

"Dia (kedua terdakwa) diputuskan dihukum 3 tahun penjara," ujar tim kuasa hukum terdakwa, Nurlan kepada detikcom, Selasa (5/7/2017).

Nurlan sebelumnya berharap agar vonis terhadap kedua terdakwa lebih ringan dari tuntutan jaksa atau minimal sama dengan istri Santoso Jumiatun alias Umi Delima, yang dihukum 27 bulan. Namun ternyata hasilnya berbeda.

Ali Kalora menjadi pentolan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) setelah Santoso alias Abu Wardah tewas dan Basri ditangkap. Santoso tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala di Pegunungan Biru, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah pada Senin(18/7/2016) petang.

Dua bulan setelahnya, Basri ditangkap di wilayah Poso Pesisir Selatan, Selasa (13/9/2016). Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat itu mengatakan Ali Kalora kemampuannya belum sebanding dengan Basri dan Santoso.

"Ali Kalora jauh di bawah kelasnya Santoso dan Basri. Ali Kalora orang ketiga, jadi orang pertama dan kedua saya kira sudah bisa dilemahkan. Kita akan tetap melakukan operasi ini baik melalui cara cara soft pendekatan maupun cara penegakan hukum," kata Tito di PTIK, Jl Tirtayasa, Jakarta, Rabu (14/9/2016).

Lama tak terdengar, Ali Kalora Cs berulah lagi. Mereka diduga memutilasi seorang penambang emas di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kepala korban ditemukan warga terpisah dari tubuhnya.

Potongan kepala korban berinisial A ditemukan warga pada Minggu (30/12) sekitar pukul 11.00 Wita oleh dua orang warga di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong. Korban adalah pekerja tambang emas tradisional di desa tersebut.

Kontak tembak itu berlangsung sekitar 30 menit. Setelah itu, kedua polisi yang jadi korban langsung diselamatkan dan dibawa ke puskesmas. Sementara pelaku penembakan yang diduga kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) eks anggota Santoso itu masih diburu.

"Pelakunya adalah kelompok DPO MIT Poso yang dipimpin Ali Kalora cs," ucap Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (31/12/2018).

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post