Kamis, 06 Desember 2018

Bukan Karena Sakit Hati Dicopot Jokowi, Tedjo Edhy Buka Suara Alasan Kini Mendukung Prabowo

Loading...
Loading...


Bruniq.com - Wakil Ketua Dewan Penasehat BPN Prabowo-Sandiaga, Tedjo Edhy Purdijatno buka suara soal tudingan mendukung Prabowo Subianto lantaran sakit hati dicopot Jokowi.

Tedjo Edhy Purdijatno diketahui sempat menjadi Menkopolhukam di era Jokowi.

Kemudian, posisi Menko Polhukam kala itu direshuffle oleh Jokowi dengan Luhut Panjaitan.

Tedjo Edhy Purdijatno tercatat menjadi Menko Polhukam selama 10 bulan.

Mantan Menko Polhukam Laksamana (Purn) Tedjo Edhy Purdijatno saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa dilansir TribunJakarta.com pada Kamis (6/12/2018) membuka suara terkait dirinya beralih dukungan.

Di awal perbincangan, Tedjo Edhy Purdijatno menceritakan dirinya dicopot oleh Jokowi kala itu.

"Bagi seorang militer setelah pensiun itu, saya diminta Pak SBY boleh melakukan bisnis atau politik. Saya lebih tertarik politik karena kalau bisnis dan militer itu lebih susah."

"Pada waktu saya belum masuk partai di ormas Demokrat, disana ada kajian dan lalu membentuk partai. Saya lah yang turut membentuk Partai NasDem. Kemudian, NasDem menjatuhkan pilihannya pada Pak Jokowi. Saya sebagai seorang militer itu setia dan loyal serta taat pada organisasi. Sehingga pada waktu itu jadi tim pemenangan Pak Jokowi secara organisasi," ungkap Tedjo Edhy Purdijatno.

Selanjutnya, Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, ia masuk ke kabinet Jokowi.

Kendati dirinya kini dicopot dari posisi menteri, Tedjo Edhy Purdijatno menuturkan ia tak sakit hati.

"Saya tak pernah menyatakan kenapa harus diganti. Itu biasa. Kemudian, saya tak di Partai NasDem waktu itu dan sudah tak dikabinet, saya tak berpolitik lagi." beber Tedjo Edhy Purdijatno.

Lalu, beberapa waktu kemudian, Tedjo Edhy Purdijatno menuturkan, ia diminta oleh Tommy Soeharto untuk membentuk partai baru, Partai Berkarya.

"Jadi tolong digarisbawahi, saya tak pernah pindah partai. Tapi membentuk partai, iya," ucap Tedjo Edhy Purdijatno.

Pernyataan Tedjo tersebut disambut riuh tepuk tangan penonton Mata Najwa dan narasumber lainnya.

"Saya lihat (red: partai berkarya) mengangkat visinya Pak Harto, bukan era orde barunya tetapi trilogi pembangunan. Itu baik sekali dan saya pelajari betul," tutur Tedjo Edhy Purdijatno.

Mantan Menteri Jokowi Masuk Timses Prabowo

'Transfer pemain' sepertinya tidak hanya terjadi di lapangan sepakbola. Pilpres 2019 mendatang juga terlihat terjadi.

Jika awalnya mereka berada di barisan terdepan dan menjadi skuad penting di pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) kini mereka berbalik arah mendukung Prabowo Subianto.

Sejumlah tokoh ini berbalik mendukung dan solid menginginkan Jokowi kembali jadi presiden di Pilpres 2019.

Sebagai catatan, ketiga tokoh ini di-reshuffle dari kabinet kerja Jokowi beberapa waktu lalu.

Siapa mereka?

1. Sudirman Said

Sudirman Said merupakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Kabinet Kerja Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla, di awal pemerintahan.

Dia diberhentikan dari kabinet pada reshuffle jilid II, pada 27 Juli 2016.
Setelah tak jadi menteri, Sudirman Said merapat ke kubu yang berseberangan dengan Jokowi.

Ia pun mendapat posisi menjadi Ketua Tim Transisi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI terpilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang diusung oleh Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto.

Selesai mengantar Anies dan Sandi menuju Gubernur DKI, Sudirman Said maju sebagai calon gubernur di Pilgub Jateng 2018.

Sudirman Said diusung oleh Partai Gerindra, PKB, PAN dan PKS. Majunya Sudirman Said di kontestasi Pilgub Jateng disebut juga atas peran politikus senior Golkar yang juga Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun ia kalah bersaing dengan Ganjar Pranowo.

Sudirman Said digadang-gadang akan masuk bursa tim pemenangan bidang ekonomi bakal pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Sandiaga sebelumnya mengaku nama Sudirman Said akan masuk tim pemenangan bidang ekonomi.

Bahkan, kata dia, dua nama itu sangat Highly recommended.

Dalam satu kesempatan, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto meminta Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said menjadi tim suksesnya di Pemilu Presiden 2019.

Pernyataan Prabowo tersebut disampikan kepada awak media usai menerima Sudirman di kediamannya Jalan Kertanegara, kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat, (6/7/2018).

Teranyar Sudirman Said mendampingi Sandiaga melaporkan harta kekayaan di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Selasa (14/8/2018).

 2. Rizal Ramli

Nama Rizal Ramli, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman era awal pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) kini berada di tim pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Sandiaga sebelumnya mengaku nama Rizal Ramli dan Sudirman Said akan masuk tim pemenangan bidang ekonomi. Bahkan, kata dia, dua nama itu sangat Highly recommended.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad pun membenarkan hal tersebut.

Menurut Sandiaga, Rizal Ramli akan bersama Sudirman Said menjadi anggota tim pemenangan yang akan fokus menggodok visi dan misi terkait ekonomi. Dua tokoh itu diketahui memang pernah menjabat menteri yang mengurusi hal-hal berkaitan dengan ekonomi.

3. Ferry Mursyidan Baldan

Nama mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang di era awal Kabinet Kerja Jokowi itu bergabung dengan tim pemenangan Prabowo-Sandi.

Ferry didapuk menjadi juru bicara untuk mengkampanyekan isu ekonomi tata ruang dan pembukaan lapangan pekerjaan untuk pasangan Prabowo-Sandi.

Hal itu disampaikan Sandi pada Selasa malam lalu.
Sebelum ini setelah tidak lagi berada di pemerintahan Jokowi, Ferry kemudian bergabung dengan tim pemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Pilgub DKI 2017.

Untuk diketahui Ferry mulai terjun ke politik pada 1992.

Ferry tercatat pernah menjadi anggota MPR, anggota DPR, dari Partai Golkar selama beberapa periode hingga 2009.

Ketika 2011 lalu, ia berlabuh ke Partai NasDem dan menjabat Ketua Badan Pemenangan Pemilu.

Pada Pemilu 2014, Ferry menjadi salah satu faktor penyebab melejitnya perolehan suara Partai NasDem.

Bahkan Ferry masuk dalam skuad timses Jokowi-Jusuf Kalla (JK) di Pilpres 2014.

Setelah Jokowi menang, ia kemudian dipercaya menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang Kabinet Kerja Jokowi.

Namun dia hanya menjabat selama sekitar dua tahun karena terkena reshuffle kabinet oleh Jokowi.

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post