Sabtu, 10 November 2018

Saat Anak SD Teriak Petugas Pajak Jahat di Depan Sri Mulyani.

Loading...

Bruniq.com -  Keriuhan Aula Cakti Buddhi Bhakti, Gedung Mar'ie Muhammad, Kantor Pusat Ditjen Pajak, mulai surut sebelum perempuan kelahiran Lampung, 26 Agustus 1962 itu dipanggil naik ke panggung.

Ia merupakan pembicara utama dan acara Pajak Bertutur yang digelar di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat (9/11/2018).

"Kita panggil, Menteri Keuangan Sri Mulyani," kata pembawa acara, melalui pengeras suara.

Perempuan yang kerap disapa Ani itu langsung beranjak dari tempat duduknya di barisan paling depan.

Saat kakinya melangkah, seisi ruangan, yang merupakan siswa sekolah hingga mahasiswa itu riuh. Di barisan belakang, bebarapa diantaranya berteriak menyambut Sri Mulyani.


Menyapa dan Bercerita

Meski diminta naik ke atas panggung, Sri Mulyani tak benar-benar melalukan itu. Ia justru menghampiri para peserta yang didominasi anak-anak sekolah itu.

Sejak Jumat pagi, ratusan anak-anak sekolah mulai SD, SMP, SMA hingga mahasiswa berbondong-bondong datang ke Kantor Pusat Ditjen Pajak.

Jakarta yang diselimuti awan hitam sejak Jumat pagi tak membuat semangat anak-anak itu surut.

Seakan ingin membalas semangat itu, Sri Mulyani menghampiridan menyapa langsung anak-anak tersebut.

Beberapa anak sekolah ia tanya, "Kalian tahu tidak saat ini ada di mana?" 

Seorang anak SD menjawab "Gedung Mar'ie Muhammad, Bu,"

"Yehhh.... hebat sekali kamu," tutur Sri Mulyani kepada anak perempuan itu sambil tersenyum.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu lantas bercerita siapa itu Mar'ie Muhammad. Mar'ie adalah Menteri Keuangan yang menjabat pada periode era Kabinet Pembangunan VI sejak 1993 hingga 1998.

Sebagai penghargaan, Kementerian Keuangan menetapkan nama Mar'ie Muhammad sebagai nama Gedung Utama Kantor Pusat Ditjen Pajak.

Keteladanan, kejujuran, integritas, komitmen, dan loyalitas Mar'ie Muhammad untuk membangun Indonesia dengan institusi yang bersih menjadi alasan yang tidak bisa dinafikan.

Padahal, saat Mar'ie menjabat sebagai Dirjen Pajak pada 1988-1993 dan Menteri Keuangan pada 1993-1998, Indonesia berada pada era yang begitu lekat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).


Celetukan Anak SD

Berawal dari cerita sosok Mar'ie Muhammad, Ibu tiga anak itu mulai masuk ke inti acara yakni mengenalkan pajak kepada kepada anak-anak sekolah.

Sri Mulyani mencoba lebih dekat dengan anak-anak sekolah lewat sejumlah pertanyaan sederhana. "Ada yang tahu pajak? Apa itu pajak?" ucapnya.

Beberapa anak SD dan SMP nampak kebingungan. Sejumlah mahasiswa yang lebih punya pengetahuan tentang pajak, mencoba membantu adik-adiknya menjawab dengan menjelaskan pajak sederhana mungkin.

Namun anak-anak SD yang polos tetap saja kebingungan. Hal itu membuat Sri Mulyani tergelitik.

Ia lantas bertanya kepada seorang anak SD, "Bapak kamu kerja apa?, namun celetukan anak SD lainnya membuat Sri Mulyani tertawa. "Katanya anak Presiden, anak Pak Jokowi dong?" ucapnya disambut gelak tawa seisi ruangan.

"Jadi bapak kalian yang kerja mendapatkan pendapatan setiap bulan. Nah pendapatanya itu dipotong oleh pajak. Jahat enggak (petugas) pajak?" tanyaSri Mulyani.

Spontan anak-anak SD kompak berteriak "Jahattttttttt...,".

Celetukan polos anak SD itu membuat ruangan riuh seketika.

Namun Sri Mulyani menjelaskan, uang yang diambil oleh pajak itu dikumpulkan lantas dikembalikan melalui berbagai hal mulai untuk gaji guru, membangun sekolah, menyediakan buku, hingga jalan raya yang dilalui anak-anak sekolah

Sri Mulyani juga mengatakan, untuk orang tua yang bekerja sebagai pedagang kecil, negara tidak akan mengambil pajak banyak hanya 0,5 persen.

Beberapa anak-anak SD masih nampak bingung, namun pandangan mereka berubah setelah mendengarkan penjelasan Sri Mulyani.

"Jadi pajak jahat enggak?" tanya Sri Mulyani.

"Enggak, Bu..." teriak anak-anak SD itu disambut senyum Sri Mulyani.

Ia mengungkapkan, pajak sangat penting bagi kelangsungan bangsa Indonesia ke depan. Sebab pajak adalah tulang punggung pendapatan negara.

Tanpa pajak, kata dia, negara akan kesulitan untuk membangun, termasuk menggaji guru hingga menyediakan sekolah yang memadai untuk anak-anak Indonesia menuntut ilmu

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post