Jumat, 19 Oktober 2018

Gejolak Dukungan PAN Di Daerah untuk Prabowo-Sandiaga Yang Tidak Kompak Dan Semakin Meluas

Loading...


Bruniq.com -  Berembus informasi sejumlah kader PAN di daerah menolak mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno karena pasangan tersebut dianggap tidak merepresentasikan partai itu. Isu yang disampaikan Sekjen PAN Eddy Suparno ini kemudian diluruskan oleh orang yang sama sehari kemudian.

Awalnya Sekjen PAN Eddy Soeparno menyampaikan hal itu saat hadir sebagai salah satu pembicara dalam diskusi publik dengan tema 'Dari Pilkada 2015-2018 dan Peta Baru Pilpres 2019', di Hotel Veranda-Pakubuwono, Jl Kyai Maja No 63, Jakarta Selatan, Kamis (18/10/2018). Awalnya ia bercerita soal euforia dukungan PAN kepada Prabowo-Sandi yang ternyata hanya berumur 3 hari.

"Ketika kita ketok palu hasil rakernas dan mengatakan bahwa kita memilih untuk mendukung Pak Prabowo, itu mungkin 99 persen dari hadirin mengatakan 'Alhamdulillah kita mendukung Pak Prabowo', sudah bersyukur, euforianya luar biasa. Tiga hari kemudian, saya menerima WA, SMS, wah ternyata yang kita pilih itu bukan kader," kata Eddy.
Eddy mengatakan sebagian kader PAN merasa partainya tak akan mendapat keuntungan karena Prabowo dan Sandi bukan representasi dari PAN. Namun keputusan partai tetap harus dijalankan untuk kepentingan pileg.


"Kita sejak awal all-out memenangkan Prabowo-Sandi. Hal itu bisa dilihat dari road show yang kita lakukan selama 3 minggu ini di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat ke lebih dari 50 kabupaten/kota dengan membawa Sandiaga Uno. Kita perkenalkan Sandi kepada seluruh kader PAN, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat umum di daerah tersebut," tutur Eddy dalam keterangan tertulis, hari ini.
"Kalau kita sekarang keluar teriak-teriak Pak Prabowo, yang dapat angin positifnya itu adalah Gerindra, bukan PAN. Akhirnya tersadarkan bahwa ujung-ujungnya ya kita harus bergerak untuk memenangkan pileg. Dan ini penting bagi kita," ungkap Eddy.

Tak hanya itu, ia menyebut sejumlah caleg dari PAN juga mengaku tidak bisa terang-terangan mengkampanyekan pasangan Prabowo-Sandiaga, khususnya caleg daerah. Eddy menyebut para konstituen caleg yang dimaksud tidak mendukung Prabowo-Sandi.

Caleg-caleg itu lalu meminta izin kepada elite partai, termasuk kepada Ketum PAN Zulkifli Hasan. Para caleg ini pun harus memikirkan diri sendiri agar bisa mendapat suara sehingga berhasil menjadi legislator.

"Sekarang di antara caleg-caleg kita yang berjuang di daerah ada yang mengatakan 'mohon maaf ketua umum, mohon maaf sekjen, tetapi saya di bawah mungkin tidak bisa terang-terangan berpartisipasi dalam pemenangan Pak Prabowo, karena konstituen saya tidak sejalan dengan itu, jadi ya mohon maaf'," ucap Eddy menirukan caleg-caleg itu.

"Jadi sekarang bagaimana caranya untuk mendapatkan kursi, ini yang sekarang ini menjadi fokus dan perhatian kita," lanjutnya.

Sehari setelahnya, Jumat (19/10), Eddy memberikan klarifikasi atas pernyataannya. Melalui keterangan tertulis, ia menyebut apa yang disampaikannya bukan berarti PAN tidak all-out dalam memperjuangkan Prabowo-Sandiaga.



Soal pernyataannya kemarin, ia menyebut itu terkait bagaimana PAN juga harus berhasil di pileg. Apalagi PAN juga punya target minimal 60 kursi DPR RI. Bila calegnya tidak bekerja keras, target itu sulit terealisasi.

"Yang saya sampaikan, sebagai bagian dari koalisi dan mengemban tugas partai, PAN harus kuat di legislatif karena jika nanti pasangan Prabowo-Sandi menang, maka legislatif yang kuat akan menjadikan pemerintahan yang efektif," sebut Eddy.

"Selain bekerja memenangkan pilpres, tentu kita juga bekerja keras untuk memenuhi target yang sudah kita canangkan," tambahnya.

Meski begitu, Eddy memastikan PAN tetap akan bekerja keras memperjuangkan Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019. Ia menegaskan PAN tetap berkomitmen berjuang bersama Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.

"Sejak awal deklarasi PAN yang merupakan bagian dari koalisi Prabowo-Sandi berkomitmen memenangkan Pilpres 2019," tutup Eddy.

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post