Kamis, 11 Oktober 2018

Ditanya Di Mata Najwa, Mengapa Jokowi Layak Dipilih Lagi ? Jawaban Budiman Sudjatmiko Ini Getarkan Jutaan Hati Para Pendukung Jokowi

Loading...


Bruniq.com - Politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko mengungkapkan alasan mengapa Jokowi layak dipilih di Pilpres 2019 mendatang.

Budiman mengatakannya ketika menjadi narasumber di acara Mata Najwa pada Rabu (10/10/2018).

Pria kelahiran tahun 1970 bahkan menganalogikannya dengan seorang mantri di Puskesmas Majenang.

"Jokowi adalah wajah tetangga kita, KH Ma'ruf Amin adalah kyai di langgar dan musala dekat rumah kita," imbuhnya.

Budiman menyatakan, sosok Capres Joko Widodo mengingatkannya terhadap mantri di Puskemas Majenang, Cilacap.

"Yang bernama Pak Sulaiman hidup seorang single parents tapi merawat anaknya dengan baik," tuturnya.

"KH Ma'ruf Amin seorang kiai pesantren yang selalu mengajar ngaji kepada saya dan saya ingat betul jika dia marah karena saya salah tajwid," sambungnya.

Menurut Budiman, Jokowi dan KH Ma'ruf Amin merupakan cerminan tetangga di sekitar lingkungan.

Meski demikian, Jokowi dipanggil sejarah dan dituntun untuk memimpin Indonesia.

"Tetapi oleh sejarah, seorang Jokowi dituntun untuk memimpin Indonesia," bebernya.

"Diminta mengerjakan hal yang mustahil menurut ahli teori pembangunan dan transisi politik. Apa yang dikatakan mustahil itu? Pak Jokowi mengerjakan pekerjaan rumah yang harusnya dikerjakan rezim otoriter, yaitu membangun infrastruktur," lanjutnya.

Lalu, Budiman Sudjatmiko memberikan berbagai contoh rezim otoriter yang ada di dunia yang membangun infrasturktur, seperti rezim Hitler di Jerman membangun jalan tol dan China membangun jalan tol ribuan kilometer.

Menurut Budiman, bagi rezim tersebut mudah untuk membangun infrastruktur namun di sistem demokrasi seperti di Indonesia hal tersebut terkadang menyulitkan.

Namun, Jokowi telah membuktikan pembangunan infrastruktur tersebut.

“Ini menjungkirbalikkan teori-teori pembangunan atau politik, yang biasanya hadir dari klan politik atau dinasti. Namun berhasil membangun bangsa ini, dan jadi role model kepemimpinan,” tutur Budiman.

Budiman menyatakan, Jokowi dan KH Ma'ruf Amin bukanlah lahir dari orang tua yang terkenal sehingga mereka hanya membuat sejarah dengan namanya sendiri.

"Tapi itu kesempatan kita untuk membuat sejarah kita sendiri," ungkap Budiman.



Hasil Survei SMRC

Saiful Mujani Research Center (SMRC) telah merilish hasil survei mereka terhadap kedua pasang calon presiden dan wakil presiden 2019, dilansir TribunWow.com dari Kompas.com pada Minggu (7/10/2018).

Dalam survei ini SMRC menggunakan satu metode yaitu dengan melakukan wawacara lewat tatap muka dengan koresponden.

Survei tersebut menunjukkan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin jauh mengungguli pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Hasil menunjukkan Jokowi-Ma'ruf unggul dengan hasil 60,4 persen sedangkan Prabowo -Sandiaga hanya mendapat 29,8 persen. Sementara sisanya 9,8 persen memilih untuk tidak menjawab.

Dilansir TribunWow dari Kompas.com pada Minggu (7/10/2018), Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan memaparkan hasil simulasi tersebut.

"Untuk simulasi dua pasangan, Jokowi-Ma'ruf Amin 60,4 persen dan Prabowo-Sandiaga 29,8 persen. Sementara 9,8 persen tidak menjawab," ujar Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Djayadi Hanan di Kantor SMRC, Jakarta.

Survei yang dilakukan dengan cara multistage random sampling tersebut memiliki margin of error sebesar kurang lebih 3,05 persen.

Sebanyak 1.074 peserta yang tersebar di seluruh Indonesia dilibatkan dalam survei yang dilaksanakan mulai dari 7 september hingga 24 september.

Sementara itu Djayadi juga mengatakan kehadiran cawapres belum berpengaruh apabila dilihat dari hasil yang tak jauh beda antara simulasi dua pasangan dengan simulasi dua capres.

Tingginya angka survei dari pasangan Jokowi-Ma'ruf enam bulan jelang pilpres dipengaruhi oleh tingginya elektabilitas Jokowi yang menyentuh angka 60,2 persen.

Nomor Urut KPU

Pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin mendapat nomor urut satu dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat nomor urut dua sebagai peserta Pemilu Presiden 2019.

Hal itu berdasarkan hasil pengundian nomor urut calon presiden-calon wakil presiden yang dilakukan di Kantor KPU RI, Jakarta, Jumat (21/9/2018) malam.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar rapat pleno terbuka pengundian dan penetapan nomor urut capres-cawapres dalam Pilpres 2019.

Sebagai informasi, bagi Jokowi dan Prabowo, hasil pengundian nomor urut Pilpres kali ini berbeda dengan Pilpres 2014.

Pada Pilpres 2014, Jokowi yang berduet dengan Jusuf Kalla ketika itu mendapat nomor urut dua. Sementara Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa mendapat nomor urut satu.

Nomor urut tersebut akan dipakai masing-masing kubu selama kampanye hingga hari pemungutan suara pada 17 April 2019.

Acara pengundian nomor urut tersebut dipimpin Ketua KPU Arief Budiman yang didampingi komisioner KPU lain. Ikut hadir komisioner Bawaslu, jajaran Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, perwakilan Komisi II DPR, para pejabat negara, hingga masyarakat sipil pemantau pemilu.

Dalam acara ini, kedua pasangan capres-cawapres didampingi para ketua umum dan elite parpol pengusung dan pendukung.

Sementara massa pendukung kedua kubu berkumpul di luar kantor KPU. Panitia membatasi mereka yang diizinkan masuk ke dalam ruangan acara.

Pada Kamis kemarin, KPU sudah menetapkan kedua pasangan sebagai capres-cawapres.

Setelah prosesi pengambilan nomor urut, acara selanjutnya adalah deklarasi kampanye damai. Rencananya, deklarasi akan dilakukan para peserta Pemilu 2019 di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu (23/9/2018) pagi.

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post