Kamis, 11 Oktober 2018

Awalnya Ancam Buka Kasus Di KPK, Tapi Amien Rais Batalkan Ngadu Ke KPK Setelah Di Periksa Polisi, Malah Muji-Muji Polri, Jurus Gudeg Polri ? Ternyata Ini Jawabannya

Loading...


Bruniq.com - Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, menjalani pemeriksaan selama enam jam sebagai saksi kasus tersangka Ratna Sarumpaet. Amien menyebut para penyidik Polda Metro Jaya memperlakukan dirinya secara layak dan pemeriksaan berlangsung akrab.

"Saya merasa dihormati dimuliakan oleh para penyidik. Jadi betul betul suasananya akrab," ujar Amien seusai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Amien bahkan menyebut para penyidik dalam mengajukan pertanyaan tidak menjebak.
"Demikian smooth dan bagus. Pertanyaannya itu straight nggak muter muter apalagi menjebak. Terimakasih sekali," ungkap Amien.

Pernyataan Amien ini sangat kontras dibanding saat dirinya akan masuk ke dalam ruang penyidikan. Sebelum menjalani pemeriksaan, Amien minta Presiden Joko Widodo mencopot Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

"Saya tahu Anda semua mau tahu soal KPK dan lain lain, saya nggak akan panjang panjang. Saya minta ke Pak Jokowi supaya Pak Kapolri Tito segera dicopot, alasannya ini pelajari sendiri," tutur Amien.

Dalam pemeriksaan ini, Amien didampingi oleh anaknya Tasniem Fauzia Rais, Hanafi Rais, pengacara Eggi Sudjana, serta Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif.

Di tengah pemeriksaan, Amien mengaku mendapat suguhan gudeg dan ayam kampung.

"Siang tadi makan gudeg, ayam kampung," ungkap Amien.

Dalam kesempatan itu Amien diminta menambah menu makan siang berupa nasi timbel.

"Namun terlalu banyak (kalau ditambah nasi timbel), tidak bagus ya. Jadi itu saja," jelas Amien.

Amien menjalani pemeriksaan selama enam jam sejak pukul 10.10 dan keluar pada 14.10 WIB. ,Ia mengaku dalam pemeriksaan tersebut ditanya 30 pertanyaan oleh penyidik.

"Jumlah pertanyaan 30 persis," ujar Amien.

Namun Amien tidak merinci pertanyaan dari penyidik.

"Bagus sekali, tanya penyidik saja," tutur Amien.

Di tengah penyidikan, Amien Rais juga sempat menjalani tes tekanan darah. Mantan Ketua MPR itu mengaku meminta dokter polisi untuk memeriksa tensi darahnya.

"Setelah makan ada dokter Polri lewat. Tensi saya 120/80," ujar Amien Rais.

Dalam kondisi seperti itu Amien menyebut dirinya bisa menyantap makanan kesukaannya.

"Jadi sehat wal afiat boleh makan tongseng dan sate," jelas Amien.

Kedatangan Amien Rais ke Polda Metro Jaya dikawal massa alumni 212.

Massa yang menggunakan mobil komando tiba di Polda Metro pukul 10.00.

"Kita kawal bapak reformasi kita. Kami terkejut Bapak Amien Rais dipanggil atas laporan polisi," tegas orator.

Batal ke KPK

Wakil Sekretaris Jenderal PAN, Faldo Maldini ikut menyampaikan orasi di hadapan massa alumni 212.

Faldo mengatakan Amien Rais merupakan pemimpin reformasi, sehingga masyarakat sekarang bisa menikmati hasilnya.

"Yang jelas sedikit saja mengusik Pak Amien, itu berarti melukai hati kita semua, melukai semangat reformasi," ujarnya.

Faldo juga mengajak massa alumni 212 melawan siapa saja yang mencoba menyakiti dan menghardik Amien Rais.

"Jangan pernah takut sekalipun, karena ini adalah perjuangan untuk anak cucu kita, agar tidak ada seorang pun di republik ini yang mati karyanya hanya karena kepentingan politik," tambahnya.

Seruan Faldo disambut massa alumni 212.


"Jika ada manusia di Indonesia hari ini yang mempertanyakan kredibilitas Pak Amien, maka ia adalah orang yang tidak menghargai jasa Pak Amien Rais sebagai pemimpin reformasi," pungkasnya.

Massa alumni 212 membubarkan diri sekira pukul 16.20 karena Amien Rais batal mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Eggi Sudjana menyebut pembatalan rencana ke KPK untuk karena Amien Rais merasa kelelahan setelah menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya.

"Kita targetnya pukul 14.00 selesai, dan Pak Amien rencananya dari sini menuju KPK untuk mengungkap kasus, tapi beliau pulang karena kelelahan," ujar Eggi.

Ia minta massa alumni 212 membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.

Eggi Sudjana mengatakan apa yang dikatakan Amien Rais soal kasus di KPK yang menyeret Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian tidak berdampak pada pemeriksaan terhadap kliennya.

"Kalau dia (Kapolri) merasa sakit hati, reaksinya mungkin lebih keras. Namun di sini tadi Pak Amien diperlakukan sangat baik, dihormati, dan dimuliakan," ujarnya.

Eggi juga menegaskan tidak ada upaya polisi melakukan kriminalisasi terhadap Amien Rais.

Terkait kasus di KPK yang akan diungkapkan oleh Amien, Eggi menyebut masih akan dibahas lebih lanjut. "Kami belum rapat lagi, tapi tetap jalan terus," ujarnya.

Berpeluang Dapat Hadiah Rp 200 Juta

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo mempersilakan Amien Rais mendatangi kantornya dan mempersoalkan kasus korupsi yang mengendap penanganannya.

"Silakan, silakan. Kami welcome saja," kata Agus ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, (10/10/2018).

Menurut Agus KPK merupakan kantor rakyat.

Siapapun boleh mendatangi KPK untuk berdiskusi atau melaporkan adanya dugaan perkara korupsi.

"KPK itu kantornya rakyat kok siapapun boleh bertandang ke KPK," kata Agus.

Sebelumnya Amien Rais menyebut akan membuka kasus korupsi yang lama mengendap di KPK.

"Tentang penegakan hukum di sana (KPK), korupsi yang sudah mengendap lama di KPK akan saya buka pelan pelan," kata Amien.

Sedang Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, menyatakan Amien Rais juga mendapatkan imbalan sebesar Rp 200 juta bila melaporkan suatu tindakan korupsi.

Hal tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam PP itu disebutkan, pemerintah akan memberikan imbalan maksimal Rp 200 juta kepada masyarakat yang melaporkan adanya pratik kasus korupsi.

Bukan hanya uang, pemerintah juga mengganjar piagam penghargaan kepada masyarakat.

Namun, pemberian hadiah kepada pelapor kasus korupsi harus melewati penilaian oleh penegak hukum, termasuk KPK.

Penegak hukum akan melakukan penilaian terhadap tingkat kebenaran laporan yang disampaikan pelapor.

Penilaian itu dilakukan dalam waktu paling lama 30 hari kerja terhitung sejak salinan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum diterima oleh jaksa.

Dalam memberikan penilaian, penegak hukum mempertimbangkan peran aktif pelapor dalam mengungkap tindak pidana korupsi, kualitas data laporan atau alat bukti, dan risiko bagi pelapor.

Saut menyambut baik aturan tersebut.

Menurutnya, semua cara perlu dilakukan untuk mencegah dan memberantas korupsi, satu di antaranya memberikan hadiah uang kepada para pelapor.

"Kerena itu, paling tidak untuk sementara waktu jalan dulu lah. Semua cara harus digunakan untuk mencegah dan memberantas korupsi,"katanya.

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post