Rabu, 03 Oktober 2018

Arcandra Tahar, dari 'Presiden Perusahaan Ternama Di Amerika' jadi Anak Buah Jokowi, Berikut Kisah Dan Penuturan Archandra

Loading...
Loading...


Bruniq.com -- Senyum Arcanda Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), merekah menyambut kehadiran tim CNNINdonesia.com saat bertandang ke rumah dinasnya. Pagi itu, Jumat (14/9), ia akan berangkat kerja ke kantornya di Kementerian ESDM, ditemani tim yang akan menyaksikan kesehariannya.

Setelah berbincang dengan tim di halaman rumahnya, ia bergegas, berpamitan dari sang istri dan masuk ke dalam mobil diantar sang supir. Kami pun mengikuti.

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Arcandra bahwa ia akan melangkahkan kaki ke Kementerian ESDM menjadi abdi negara.
Lahir dan tumbuh besar di Padang, Sumatra Barat, Arcandra memutuskan bertolak dari kampung halamnnya untuk menimba ilmu di ITB untuk jurusan Teknik Mesin. Diikuti jenjang berikutnya di Texas A&M University Ocean Engineering.

Ia mengawali karirnya sebagai Asisten Peneliti Offshore Technology Research Center selama empat tahun, Technical Advisor Noble Denton, hingga Principal Horton Wilson Deepwater pada 2009-2013 lalu.

Ia memang telah malang melintang di sektor energi. Tidak kurang dari 20 tahun menetap di Amerika Serikat dan menjadi Presiden Petroneering, perusahaan konsultan dan pengembangan teknologi pengeboran minyak lepas pantai. Kehidupannya ketika itu boleh jadi adalah impian banyak orang.

Tetapi, Arcandra tampaknya bukan seorang yang ambisius. Ia pasrah kemana takdir membawanya. Buktinya, ketika tawaran menjadi Menteri ESDM mampir, ia menerima dengan tangan terbuka.

Pada 27 Juli 2016, ia didapuk sebagai Menteri ESDM menggantikan Sudirman Said yang diberhentikan oleh Presiden Joko Widodo. Namun, seketika, pria kelahiran 10 Oktober 1970 tersebut diterpa isu status dwi kewarganegaraan.

Ia mendadak naik pamor dan dibicarakan banyak orang. Indonesia sendiri tak menganut status kewarganegaraan ganda. Arcandra menjadi polemik. Akhirnya, tak berselang lama, pada 15 Agustus 2016, ia harus lengser dari jabatannya.

Apakah pernah ada rasa bosan menghadiri rapat setiap hari?

Namun, Presiden Jokowi kelihatannya sudah kadung kepincut dengan isi otak Arcandra. Tak butuh waktu lama, Jokowi kembali melantik Arcandra sebagai Wamen ESDM untuk mendampingi Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Bagaimana tak jatuh hati? Arcandra bahkan memiliki lima hak paten untuk penemuannya di sektor energi. Hak paten itu tercatat di AS. Di Indonesia, ia juga mengejar hak paten atas penemuan lainnya.

Apabila teknologi yang dirancangnya digunakan oleh negara atau perusahaan, maka dana royalti akan mengalir deras ke kantongnya.

Kembali ke cerita ia di Kabinet Kerja Jokowi. Arcandra mantap menanggalkan kenyamanan dan kewarganegaraan Amerika-nya. Bahkan ia mengaku tak sakit hati dengan komentar masyarakat menanggapi status kewarganegaraan gandanya. Bagi dia, itu adalah kerikil dalam perjalanan hidupnya.

"Bahwa hak dari masyarakat ingin tahu terhadap diri saya itu wajar. Siapa saya, tahu-tahu jadi menteri. Ini adalah jabatan yang amanatnya bukan main. Jadi, wajar lah, tak perlu saya marah atau sakit hati," ungkap Arcandra.

Begitulah Arcandra. Ayah dua anak ini mengaku tak pernah ambil pusing soal jabatannya di dunia ini. Satu yang ia pikirkan, apakah keberadaannya bermanfaat untuk negara dan masyarakat.

"Saya masih berpikir-pikir, ada tidak manfaatnya saya di sini. Kalau tidak bermanfaat misalnya, ada tidak kegiatan yang lebih bermanfaat," katanya pasrah.

Prinsip itu pula yang ia pegang teguh dalam mengatur waktunya sebagai Wamen ESDM. Dengan jadwal yang begitu padat, misalnya saja, dalam memilih rapat mana saja yang harus dihadiri langsung dan mana yang bisa diwakilkan.

"Saya pernah protes dalam rapat, saya tanya 'pak saya boleh tidak di sini?' 'Kenapa?' 'Karena pekerjaan saya yang lain lebih bermanfaat. Jadi boleh tidak diwakilkan nanti saya dikasih hasilnya'," cerita Arcandra.

Meski sudah menyeleksi rapat mana saja yang harus ia datangi, jumlah rapat yang harus ia pimpin bukan berarti sedikit tiap harinya. Rata-rata Arcandra memimpin tiga sampai empat rapat per hari. Pernah, di satu hari ia menjalani delapan rapat sekaligus.

Namun demikian, ia tak lupa untuk menyisakan waktu untuk keluarga. Bahkan, ia masih meluangkan 'kencan makan siang' bersama sang istri. Pada Rabu di setiap pekan, ia akan mengundang sang istri makan di meja kantornya. Hal itu menjadi kebiasaannya sejak ia menjabat sebagai Wamen.

"Kalau hari-hari biasa, makanan dibawakan dari rumah. Kadang makan dengan rekan kerja. Kalau Rabu, istri datang, kami makan sama-sama," ucap seraya tersenyum.

Sementara, untuk makan malam, ia akan mengupayakan memiliki waktu untuk makan bersama anak dan istri di rumah.

"Di meja makan itulah nanti kami cerita aktivitas hari ini, anak-anak saya tanya ke saya dan saya juga tanya," tutur Arcandra.

Arcandra juga tak lupa untuk menyalurkan hobinya berolahraga, meski hanya satu jam. Olahraga kesukaannya adalah tenis meja. Olahraga ini biasa dilakukannya malam hari, sepulang bekerja.

Lantas, bagaimana cerita lengkap Arcandra mengatur waktu antara pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri hingga caranya mengatur suasana hatinya dalam bekerja? Berikut petikan wawancaranya baru-baru ini.

Sebenarnya bukan bosannya, tapi apakah saya bisa memberikan nilai tambah untuk sebuah rapat. Rapat itu persoalannya banyak sekali, seberapa cepat saya bisa menyelesaikan persoalan itu, seberapa akurat data yang bisa dikumpulkan, sehingga bisa membuat keputusan yang benar-benar adil untuk negara ini.

Tentu, karena persolannya banyak dan tantangannya banyak, saya merasa setiap rapat adalah sebuah tantangan, seperti sebuah orkestra.

Dipersiapkan rapatnya, nanti keputusannya apa. Bergantung dari hasil rapat itu, seperti main musik kali ya. Lihat rapatnya, lihat dinamikanya seperti apa. Terus bikin keputusan yang sesuai dengan rasa keadilan untuk bangsa ini.

Itu yang paling menantang, saya merasa bosan? Tidak. Alhamdulillah, saya merasa itu seperti tantangan tersendiri yang selama ini beda. Private sector tidak seperti itu.

Bagaimana cara Anda mengatur suasana hati ketika rapat?

Sering tidak saya marah? Sering. Ya begini sekarang kalau ada hal-hal yang menurut saya pribadi bahwa seharusnya ini tidak dilakukan, tapi itu dilakukan. Itu yang pertama. Yang kedua, seharusnya, misalnya kami mampu melakukannya, tetapi kami tidak mau melakukannya. Itu juga membuat suasana hati saya tidak bagus jadinya.

Ketiga, seharusnya kami bisa memproses itu dalam waktu satu jam, tapi itu kami lakukan dalam waktu seminggu atau sebulan. Keempat, seharusnya, misalnya hasilnya bisa jauh di atas perkiraan, tapi hanya seberapa saja yang dihasilkan.

Nah, di situ juga kadang-kadang suasana hati saya agak terganggu. Tapi saya berusaha, karena manusia pasti ada marah, pasti ada senangnya. Wah, kelihatannya pak Arcandra tidak pernah marah tuh, coba saja lihat ya, di rapat marah juga tidak saya. Ternyata, ya marah juga.

Kelima ini adalah faktor ujian kesabaran, setiap hari saya berdoa semoga saya diberi kesabaran setiap rapat. Tapi kadang ada saja persoalan yang membuat saya jengkel, tim saya kadang-kadang mengingatkan ya walaupun mereka anak-anak muda saya beri kebebasan, saya minta tolong ingatkan saya nanti ya kalau saya marah. Nanti mereka yang mengingatkan.

Bagaimana cara Anda mengatur jadwal yang padat setiap hari?

Kapan nih waktu buat keluarga? Karena waktu saya tinggal di luar negeri dulu semuanya kami kerjakan semuanya sendiri. Lalu sampai sini beda. Banyak yang bantuin di sini. Terus kapan waktu bersamanya? Kurang nggak? Ya memang agak kurang. Tapi saya mencoba memberikan pengertian kepada keluarga bahwa manusia itu tidak bergantung atau dilihat tidak dari posisinya, tapi dilihat daripada waktu kapan dia bisa bermanfaat untuk yang lain ya.

Saya memberikan pengertian kepada anak-anak bahwa episode yang diberikan Tuhan saat ini adalah sebagai Wamen, mohon kiranya minta pengertiannya bahwa waktu bapaknya nggak banyak.

Mungkin setelah ini, saya tidak tahu, saya berjanji waktunya akan kembali atau seperti dulu. Bagaimana mengaturnya sekarang? Mengaturnya sekarang sebisa mungkin kalau saya tidak keluar daerah atau akhir pekan atau tidak pulang malam, saya usahakan untuk makan malam bersama keluarga. Kemudian, kalau siang masakan dimasakin istri, Rabu jadwalnya makan bersama istri.

Lalu, apa Anda juga memiliki hobi yang biasa Anda lakukan?

Saya hobinya banyak, saya hobi olah raga, hobi baca, hobi travelling, ya. Sekarang tidak sebebas yang dulu. Bagaimana mengaturnya agar hobi ini bisa tetap jalan gitu ya? Nah, kalau hobi baca di perjalanan bisa. Diselipkan. Hobi travelling ya alhamdulillah kalau kunjungan ke daerah, seolah-olah travelling lah ya.

Terus hobi olahraga ya disempat-sempatkan. Malam hari bisa berkeringat, Sabtu atau Minggu. Dan kunjungan ke daerah saya usahakan untuk main gitu kan. Mainnya tidak banyak-banyak, mungkin satu jam-dua jam. Tidak kuat juga lama-lama main tenis.

Apa yang akhirnya membawa Anda sampai ke kursi ini sekarang pak?

Saya juga tidak tahu, tapi yang paling besar itu karena takdir. Sudah ada garis suratannya, bahwa suatu saat saya akan di sini. Yakinlah itu. Dikejar seperti apa pun, alhamdulillah dengan posisi sekarang ya mungkin ada yang mengejar-ngejar mungkin ada yang tidak mengejar-ngejar. Jalan hidup masing-masing, sudah ada takdirnya. Jalani saja.

Anda sempat menjadi Menteri ESDM dan dicopot karena dwi kewarganegaraan, lalu diangkat kembali menjadi Wakil Menteri ESDM. Apa Anda merasa sakit hati?

Masyarakat perlu tahu siapa yang duduk di jabatan publik ya, saya kan datang tiba-tiba tanpa dikenal. Baik nama, karakter, ini siapa? Boleh tidak publik tahu? Boleh, harus tahu, dan itulah proses edukasi, publik ingin tahu sekali. Pencapaian saya di Indonesia hampir tidak ada, hanya kan sampai sekolah lalu saya kerja sebentar, terus saya keluar negeri ya.

Interaksi saya dengan rakyat di sini juga minim sekali ya. Hak dari masyarakat ingin tahu terhadap diri saya itu wajar karena ini adalah jabatan yang amanatnya bukan main. Toh, dulu saya juga sebagai manusia, setelah turun saya tetap manusia.

Kecuali pada saat itu saya bisa menekan meja gitu kan, makan bantal gitu, kan nggak. Makanan saya alhamdulillah tetap ada nasinya ada lauknya, tetap manusia biasa. Posisi awal waktu lahir tidak pakai apa-apa, pas dikubur hanya gunakan paling berapa lembar.

Dalam politik, masyarakat berhak untuk tahu siapa ini orangnya. Kalau prinsipnya seperti itu kenapa harus marah

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post