Jumat, 14 September 2018

Soal Pantun Farhat Abbas, Dedi Mulyadi : Gimmick Politik Hanya Membawa Pada Kebodohan

Loading...


Bruniq.com -- Setelah membuat pantun untuk capres-cawapres dukungannya, anggota tim kampanye Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin, Farhat Abbas, menuai banyak kritikan. Satu di antaranya adalah kritikan dari Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulayadi. Kritikan tersebut disampaikan Dedi melalui akun Twitter miliknya, @DediMulyadi71, Rabu (12/9/2018).

Dengan mentautkan berita terkait Farhat Abbas, Dedi mengatakan jika dirinya tak menyetujui perkataan pengacara yang satu itu. Menurut Dedi, Farhat  sebagai anggota tim kampanye seharusnya fokus pada pendidikan politik, infrastruktur, industri, dan sebagainya. Berikut ini kicauan Dedi  yang dikutip TribunWow.com.
"Yang Pilih Jokowi Masuk Surga, Yang Gak Pilih Jokowi Masuk Neraka” merupakan kalimat yang sangat mudah dilontarkan tetapi memiliki implikasi negatif yang kuat. Yakni, menyeret Agama yang suci ke dalam wilayah politik yang bersifat pragmatis.

Sejak awal, saya tidak begitu menyetujui tema yang mengatasnamakan Kuasa Allah yang memiliki otoritas Surga dan Neraka dibawa ke dalam area politik.

Bung Farhat, sebaiknya kita fokus melakukan pendidikan politik agar publik menjadi pemilih cerdas.
Nalar yang harus dibangun adalah pemahaman terhadap kualitas program.

Banyak sekali program Pak Jokowi yang bisa dijelaskan kepada masyarakat luas. Pembangunan infrastruktur dan pemukiman yang mulai merata dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote harus tersampaikan kepada publik.

Termasuk, suprastruktur dan infrastruktur ekonomi Indonesia yang kokoh di tengah ketidakpastian ekonomi global. Masyarakat Indonesia masih bisa berbelanja di pasar, sektor industri masih mampu berproduksi secara maksimal, para petani kita masih bisa bertani dan berladang.

Anak-anak sekolah masih bisa pergi ke sekolah dan menerima pelajaran dengan baik.





Keluhan justru lebih banyak dilontarkan oleh mereka yang tidak merasakan keluhan yang mereka lontarkan sendiri. Masyarakat dan kaum pekerja tidak pernah berbicara karena tidak memiliki kepentingan politik.

Seharusnya, mereka itulah yang mendapatkan perlindungan, mulai dari jaminan kesehatan sampai jaminan hari tua diskusi program seperti ini sangat dibutuhkan agar politik dapat dijangkau dengan pikiran yang jernih dan nalar yang sehat.

Gimmick Politik hanya akan membawa pada kebodohan bukan kecerdasan," tulis Dedi Mulyadi.








Sementara itu, diberitakan sebelumnya dari Kompas.com, Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf, Raja Juli Antoni, menyayangkan pernyataan Farhat. Ia menegaskan bahwa pernyataan Farhat itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut TKN Jokowi-Maruf.

"Kami akan memberikan teguran internal ke Bang Farhat. Ini bukan narasi Jokowi-Maruf," kata Raja Juli di Sekretariat TKN Jokowi-Maruf, Menteng, Jakarta, Rabu (12/9/2018).
Raja menegaskan, setiap anggota tim kampanye memang mempunyai gaya sendiri-sendiri dalam mengampanyekan pasangan Jokowi-Maruf. Namun, cara-cara yang membawa isu primordial tak bisa dibenarkan.

"Kami tak pernah memainkan isu agama, membangun sentimen primordial, apalagi mengaitkan ini dengan akhirat. Ini soal duniawi, kok," kata Raja.

Selain itu, Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding mengaku sudah menegur kader partainya, Farhat Abbas.

Karding mengakui pernyataan Farhat tersebut tidak tepat dan bisa menjadi blunder.
"Itu tidak baik. Itu bisa merugikan Pak Farhat sendiri, merugikan partai, merugikan paslon. Sudah, sudah saya tegur," kata Karding di Sekretariat TKN Jokowi-Maruf, di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Begitu mengetahui unggahan Farhat, Karding mengaku langsung menghubungi Farhat via WhatsApp.

Ia meminta Farhat untuk tak lagi membuat pernyataan kontroversial.
"Ya saya bilang, jangan membuat statement yang bisa dimaknai orang maupun dipahami orang itu menghina, membuli kelompok lain," kata dia.


Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post