Sabtu, 08 September 2018

Kritik Slogan Timses Jokowi-Maruf, Denny Siregar: Jadul dan Terlalu Standar

Loading...


Bruniq.com - Pegiat media sosial Denny Siregar menyampaikan kritikannya terkait slogan tim sukses Joko Widodo-Maruf Amin. Kritikan tersebut disampaikan Denny melalui laman Facebook miliknya, @dennyzsiregar, Kamis (6/9/2018).

Menurut Denny, slogan "Bersih, Merakyat, Kerja Nyata" dianggap kurang nendang. Ia menyebutkan. slogan yang dipilih timses Jokowi-Maruf ini sangat 'jadul' dan justru merusak citra dirinya. Lebih lanjut, Denny Siregar membandingkan branding timses Jokowi dengan branding Prabowo yang lebih provokatif.


Berikut tulisan lengkap Denny Siregar mengenai hal tersebut:
"SEBUAH KRITIKAN UNTUK TIMSES JOKOWI

'Bersih, Merakyat, Kerja Nyata..'

Itulah yang menjadi slogan timses Jokowi dalam membangun citra Presiden memasuki masa pemilihan Presiden tahun depan. Bersih mencitrakan pemerintahan yang tidak korup, kerja menunjukkan bahwa Jokowi bergerak dan merakyat adalah sebuah pesan bahwa Jokowi dekat dengan rakyatnya.

Sebuah slogan yang bagus. Tapi entah kenapa saya merasa ada yang kurang nendang..

Sebagai orang marketing, saya selalu berhadapan dengan banyak ide dan kreatifitas dalam membangun brand.

Ide dan kreatifitas membangun brand itu sangat penting, karena itu bagian dari pesan yang ingin disampaikan.

Tapi saya harus mohon maaf pada timses Jokowi, bahwa slogan 'Bersih, Merakyat, Kerja Nyata' itu - bagi saya - sangat jadul.

Sangat TVRI. Sangat pemerintahan. Terlalu standar. Sama sekali tidak menggerakkan apa-apa.

Slogan ini cocok disematkan pada Jokowi saat dia menjadi Walikota Solo, dimana Jokowi masih pake jas kedodoran.

Kalau sekarang, ketika Jokowi tampil dengan gaya 'fun dan garang' dengan jaket jeans, motor besar dan sneakers, slogan 'Bersih, Merakyat, Kerja Nyata' itu seperti menghancurkan bangunan yang dia bentuk dengan aksesoris 'keren' yang dia pakai.

Bersih, kerja dan merakyat itu adalah sebuah keharusan bagi seorang pemimpin.

Tidak perlu dijadikan slogan. Karena itu sudah kewajiban. Tidak ada yang istimewa.

Bahkan generasi milenial yang sudah terkontaminasi teknologi dan banyak berkomunikasi dengan negeri luar, akan ketawa kalau baca slogan itu.

Bayangin aja, mereka sering nonton youtube dengan segala macam pernak perniknya, trus tiba-tiba dipaksa nonton TVRI jadul dengan gaya pembaca berita yang sangat formal.

'Berita-berita selengkapnya. Harga cabe keriting di pasar induk..'

Kebanting, gan..

Coba lihat apa yang dilakukan tim Prabowo...

Mereka dengan gencar melakukan branding yang provokatif, seperti #2019gantiPresiden.

Ini adalah pesan yang kuat, garang dan membangun perlawanan.

Apalagi ketika mereka nanti merubah dari kata 'gantiPresiden' menjadi 'Perubahan' atau 'Perlawanan'.

Dan model-model revolusioner ini sangat disukai generasi milenial.



Kemampuan narasi tim oposisi harus diakui mempunyai kekuatan. Menantang.

Pesannya jernih dan mudah dijadikan doktrin. Tidak malu-malu dan menyerang.

Sedangkan slogan Jokowi seperti pemain bertahan yang males-malesan.

'Ah, udah pasti menang ini, ngapain terlalu galak ? Santai aja..'

Ini justru berbahaya. Sekali pukul, bisa jatuh dan pingsan..

Intimidasi dalam membangun slogan itu sangat penting, apalagi ketika pertarungan terjadi pada dua kubu.

Seperti orang berdebat, harus pakai narasi memukul dan memojokkan, bukan narasi sekedar menyampaikan.

Karena dalam situasi ini, penonton tidak melihat siapa yang benar dan siapa yang salah, karena ini sebenarnya pertarungan persepsi saja.

'Menangkan persepsi, maka anda sudah memenangkan pertarungan'.



Strategi ini seharusnya sangat dipahami oleh timses Jokowi dalam membangun citra.

Jokowi sudah keren tampil dengan motor besar malah pake acara jumping segala di pembukaan Asian Games, dan diapresiasi oleh anak muda Korea yang menjadi rujukan milenial Indonesia.

Tapi citra itu akan hancur ketika slogan yang disampaikan sama sekali tidak 'menggelora'.

Ketika membaca slogan 'Bersih, Merakyat, Kerja Nyata' maka yang akan terpersepsikan oleh milenial adalah 'kelompok tua' atau 'bukan generasi gua'. Selesai sudah.

Inilah yang harus diperbaiki sebelum memasuki masa kampanye.

Banyak model slogan yang membakar, menggelora, memotivasi, melakukan perlawanan dan revolusioner.

Ini perang propaganda, bukan sekedar berkata-kata.

Seperti dulu Obama dengan kata 'Change!' atau slogan Trump 'Make America Great Again!' Itu membangkitkan perjuangan dan perlawanan.

Sebuah revolusi yang menghanyutkan.

Coba misalnya Trump pake slogan, 'Clean, Work and close to the people'.

Sudah pasti kalahnya, karena basi banget dengernya.

Ini kritikan dan mudah-mudahan bisa didengar. Sukur-sukur bisa dirubah dengan yang lebih garang.

Bayangkan ketika secangkir kopi, slogannya cuman 'Panas, Legi dan Kentel'.

Pasti gak banyak yang tertarik menikmatinya.

Tapi kalau slogannya, 'Hare gene masih minum teh ??' Wah, ini ngajak berantem hihihi.

Ngopi dulu ahhhh," tulis Denny Siregar.


Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post