Selasa, 19 Juni 2018

Kawasan Kota Tua Semrawut Akibat PKL, Sandiaga Uno Marah, Tapi Para PKL Malah Bilang Begini, Sandiaga Uno Di Kacangin ?

Loading...


Bruniq.com - Kawasan Kota Tua memang menjadi magnet bagi para wisatawan. Tak heran jika destinasi yang berlokasi di Jakarta Barat ini dipadati pengunjung ketika lebaran.

Sayang, dari pintu keluar Halte Bus TransJakarta, menuju ke Museum Fatahillah, dipenuhi para pedagang kaki lima (PKL). Praktis, hal itu menjadi pemandangan tak sedap bagi sebuah tempat wisata.

Hal inilah yang membuat Wagub DKI Jakarta, Sandiaga Uno, geram. Bahkan Sandi mengultimatum dinas UMKM untuk membereskan masalah PKL di Kota Tua.

Pada H+2 di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, pada hari Minggu (17/6), pejalan kaki tampak kesulitan melewati kawasan tersebut. Pasalnya, untuk menuju ke area wisata, langkah kaki mereka terhalang lapak para pedagang.

Tak hanya para pejalan kaki yang merasa kesulitan untuk melintas. Kendaraan bermotor pun hanya dapat menggunakan sebagian badan jalan karena hampir dua lajur digunakan oleh para pedagang.

PKL tersebut didominasi oleh penjual aksesoris, pakaian, sandal sepatu, boneka, hingga makanan dari mulai makanan ringan hingga makanan berat.

Jalanan juga semakin penuh, karena banyaknya pengunjung yang kemudian berbelanja di para pedagang tersebut. Alhasil, para pejalan kaki semakin kesulitan mencari jalan untuk berlalu lalang.

Lalu lintas di sekitar Kawasan Kota Tua, khususnya di Jalan Ketumbar pun kemudian menjadi tersendat. Meski sejumlah petugas kepolisian telah menertibkan kawasan itu.

Seorang pedagang ketoprak, Toro, mengatakan dirinya memilih berdagang di bahu jalan karena lokasi tersebut merupakan lokasi strategis. Ia dapat dengan mudah mendapatkan pembeli meski di hari biasa.

"Di sini enak. Strategis. Gampang dapat pembeli," katanya.

Toro mengaku, ia merupakan salah satu pedagang yang sebelumnya dipindahkan oleh Pemprov DKI ke lokasi binaan (Lokbin) Taman Intan. Namun, ia memilih kembali berdagang di sepanjang Jalan Ketumbar, tepatnya di sekitar pintu masuk menuju Taman Fatahillah yang ramai pengunjung.

"Di sana sepi. Saya modal Rp 100.000. Tapi sehari dapetnya cuma Rp 15.000. Makanya milih di sini ajalah," kata Toro.

Ia sebenarnya bersedia untuk dipindahkan, asalkan, lokasi penampungan tetap berada di kawasan Kota Tua.

"Mau dah di Lokbin, di Loksem (Lokasi Sementara). Asal tetep di sini," katanya.



Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post