Jumat, 13 April 2018

Tulisan Viral Deny Siregar Soal Ucapan Rocky Gerung Yang Sebut Kitab Suci Fiksi, Haruskah Rocky Gerung di Penjara?



Bruniq.com - Aktivis yang juga penggiat media sosial Birgaldo Sinaga, membuat tulisan pendek soal kontroversi pernyataan dosen filsafat Universitas Indonesia Rocky Gerung yang menyebut kitab suci adalah fiksi.

Birgaldo mengaitkan kasus Rocky dengan sejumlah kasus penistaan agama, seperti yang dialami oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Dokter Otto, hingga kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepada Sukmawati Soekarnoputri karena puisi 'Ibu Indonesia.'
"Seperti saya tidak ingin Ahok dipenjara karena menyatakan pikirannya, demikianlah saya tidak ingin Rocky dipenjara karena alasan itu. Demikian juga dengan Ibu Sukmawati," tulis Birgaldo.

"Rangkaian kekonyolan Pasal 156 dan 156a yang mengorbankan Ahok,  Dokter Otto dan lain lain itulah yang harus kita perjuangkan agar diubah sehingga tidak memakan korban anak bangsa lainnya.  Jika tidak maka negeri ini akan terus memakan anak kandungnya sendiri sebagai tumbal kebodohan hukum negeri kita," tandas loyalis Ahok itu.

Berikut penggalan tulisan Birgaldo, dikutip dari akun Facebooknya, Kamis (12/4/2018).

Haruskah Rocky Gerung Dipenjara ?

Tibalah hari dimana ILC mengusung tema Berbalas Pantun Prabowo dan Jokowi. Selasa lalu, panggung raksasa yang mempertemukan pendukung Prabowo dan Jokowi tampil di layar kaca.  Di barisan tengah dihadirkan Rocky Gerung yang diposisikan sebagai pihak netral karena kapasitasnya sebagai dosen filsafat UI. Katanya sih begitu.

Jrenggg... Rocky Gerung menggerung. Malam itu ILC gaduh kembali. Benar2 gaduh. Rocky dengan tema besar itu menggugat kembali olok2 pendukung Jokowi yang menertawakan pidato Indonesia Bubar. Rocky dengan gesture meremehkan pengetahuan pendukung Jokowi beranggapan pendukung Jokowi  tidak mengerti sama sekali soal diksi fiksi yang ditertawakan itu.

Rocky bicara Kitab Suci adalah fiksi.  Lalu Ia menguraikan panjang kali lebar ucapannya itu dengan menarik kata awal fictio dari bahasa latin yang artinya berbeda dengan terjemahan fiction dalam kamus Inggris dan terjemahan KBBI. Bagi Rocky Indonesia Bubar pada 2030 bukanlah ramalan konyol.  Itu bisa terjadi bisa juga tidak. Lalu dimana salahnya? Kira2 begitu alur Rocky membela pidato Indonesia Bubar 2030.

Reaksi publik kontan rame dan gaduh.  Jika kasus Ahok dan Sukmawati reaksi publik terbelah dua dengan pendukung arus utama Pro Jokowi ( cebong) membela Ahok dan Sukmawati dan   di seberang ada Pro Prabowo (kampret)  yang menyerang.  Maka kali ini publik terpecah tiga dengan komposisi posisi garis zig zag. Garis diagonalnya sudah tidak jelas lagi.

Kampr*t yang biasanya berteriak melengking soal penistaan agama mendadak bisu.  Suaranya hilang.  Mulutnya terkatup rapat seakan-akan sedang puasa mencaci maki.  Kontras saat Sukmawati membacakan Puisi Ibu Indonesia.

Cebong serentak bersuara keras atas ucapan Rocky Gerung.  Di lini masa semua menyesalkan pernyataan Rocky itu.  Dalam tataran aksi lanjutan kubu cebong terfragmentasi. Terfragmentasi dua kubu.  Ada yang ingin menyeret Rocky ke penjara karena menista agama.  Ada yang menahan diri agar pikiran dibalas dengan pikiran.  Bukan dengan hukum.

Dua kubu cebonk ini membuktikan meski dalam satu barisan,  soal ide dan gagasan, setiap individu yang berada dalam barisan itu punya sikap individual yang semuanya itu dilandasi pengetahuan,  landasan berpikir dan kemampuan berpikir yang masing2 merdeka.  Tidak punya hirarki.  Bebas merdeka.

Saya memilih tidak berharap Rocky dipenjara karena Ia mengemukakan pikiran dan pendapatnya apalagi itu di ruang diskusi. Beberapa teman saya berbeda pendapat.  Rocky harus mempertanggungjawabkan ucapannya karena sudah menista kitab suci sejajar dengan novel.

Benarkah karena alasan itu?  Ataukah karena dendam karena Rocky lawan politik kita?  Lawan yang nyinyir pada Jokowi.  Lawan yang omongannya penuh kritik keras pada pemerintahan Jokowi?

Sejak muda saya memimpikan Indonesia yang warganya bisa bebas berpikir dan berpendapat.  Itu perjuangan anak muda pada tahun 90an.  Reformasi hasilnya.  Tidak mudah perjuangan itu. Ongkos untuk mendapatkan kemerdekaan berpikir dan berpendapat itu mahal sekali.

Saya pernah merasakan tidak enaknya dilaporkan ke polisi hanya karena saya menulis soal kritikan saya pada Walikota Batam yang mengedarkan Surat Himbauan Natal.

Saya merasakan bagaimana tidak nyamannya ketika pikiran saya dicoba berangus dengan pisau hukum.  Hukum semena2 yang tunduk pada tekanan massa dan kekuasaan.

Saya juga merasakan bagaimana perihnya perasaan Ahok saat membela dirinya di ruang pengadilan. Saya hanya berjarak lima langkah dari kursi pesakitan Ahok pada sidang perdananya. Saya melihat bagaimana air mata Ahok menetes.  Saya melihat bagaimana Ronny Latupessy memberi tisu pada Ahok agar Ahok menyeka air matanya.

Saya mendengar getar dan serak suaranya saat Ahok bilang "Bapak Hakim Yang Mulia bagaimana mungkin saya menista agama ayah angkat saya yang sangat saya hormati?  Bagaimana mungkin saya menghina agama Islam yang membentuk saya saat saya sekolah Islam di Belitung?"

Hampir 30 minggu saya dan teman2 membela keadilan Ahok di depan pengadilan Jakut.  Setiap minggu panas hujan tanpa henti membela Ahok berhadap2an dengan FPI,  GNPF MUI,  LUI dan kelompok afiliasinya.  Betapa ngerinya situasi negeri saat itu.  Mahal sekali ongkos yang harus kita tanggung.

Kemarin Permadi Arya dan Jack Lapian dari Cyber Indonesia melaporkan Rocky Gerung  ke Polda DKI Jakarta.  Untuk selanjutnya proses hukum atas laporan itu akan diproses oleh polisi.

Tentu langkah hukum teman2 saya ini tidak bisa digugat siapapun.  Karena itu hak. Sama halnya langkah saya yang tidak berkenan memenjarakan Rocky. Cukuplah pikiran dibalas dengan pikiran.  Ide dilawan dengan ide.  Gagasan dilawan dengan gagasan.  Tidak elok jika pikiran dibalas dengan hukum penjara.

Saya punya cerita pilu soal melawan genk 212 saat Ahok dipenjarakan.  Saya ada di sana setiap hari.  Di jalanan.  Berhadapan dengan mereka muka ketemu muka.  Taruhannya nyawa.

Tapi dalam soal Rocky ini saya menempatkan dendam dan kemarahan pada level bawah.  Jika menuruti dendam dan kemarahan mungkin sayalah yang paling berhak menuntut Rocky ke penjara.  Karena Rocky adalah bagian dari genk 212 yang telah merusak relasi kebangsaan kita.

Seperti saya tidak ingin Ahok dipenjara karena menyatakan pikirannya,  demikianlah saya tidak ingin Rocky dipenjara karena alasan itu. Demikian juga dengan Ibu Sukmawati.

Saya pernah diperiksa polisi dan ditekan oleh kelompok ormas dan massa hanya karena menyampaikan pikiran saya.  Saya tahu itu konyol.  Hanya kekonyolan yang bisa memenjara orang yang menyampaikan pikirannya.

Tapi seperti filsuf abad pencerahan Voltaire bilang,  "Saya tidak setuju apa yang kau bilang, tetapi akan saya bela mati-matian hakmu untuk mengucapkan itu." Saya sepemikiran dengan Voltaire.

Akhirnya saya menutup tulisan ini dengan  ucapan Gandhi " Mata ganti mata hanya akan membuat seluruh dunia menjadi buta".

Rangkaian kekonyolan Pasal 156 dan 156a yang mengorbankan Ahok,  Dokter Otto dan lain lain itulah yang harus kita perjuangkan agar diubah sehingga tidak memakan korban anak bangsa lainnya.

Jika tidak maka negeri ini akan terus memakan anak kandungnya sendiri sebagai tumbal kebodohan hukum negeri kita.

Salam perjuangan penuh cinta
Birgaldo Sinaga



Next article Next Post
Previous article Previous Post