Rabu, 25 April 2018

Survei Terbaru. PDIP 33,3 persen, Gerindra kalahkan Golkar. Ini Selengkapnya..

Loading...
Bruniq.com  - Litbang Kompas menggelar survei terbarunya terkait elektabilitas partai politik pada periode 21 Maret - 1 April 2018. Hasilnya mengejutkan, Partai Gerindra berhasil menyalip Golkar jelang Pemilu 2019. Survei ini dirilis, Rabu (25/4).

Hasil survei menyatakan, PDIP masih berada di urutan teratas dengan tingkat elektabilitas 33,3 persen. Disusul posisi kedua yakni Gerindra dengan keterpilihan 10,9 persen dan Partai Golkar di angka 7-9 persen.
Menurut Kompas, keterpilihan PDIP dan Gerindra meningkat dipengaruhi dari efek elektoral sang tokoh. PDIP punya Joko Widodo yang saat ini sedang berkuasa. Sementara Gerindra punya Prabowo Subianto yang ingin maju sebagai capres di Pilpres 2019.
Dalam surveinya, Kompas mengkategorikan kelompok parpol menjadi tiga bagian. Pertama, kelompok yang ketika diproyeksikan dengan potensi maksimal suara (memperhitungkan sampling error) dari survei ini, akan meraih elektabilitas lebih dari 10 persen. PDIP, Gerindra dan Golkar masuk kategori ini.
Berikutnya, kategori kedua yakni potensi perolehan suaranya di tingkat 4-10 persen. Ada tujuh parpol yang masuk kelompok ini. Yakni, PKB, Demokrat, PAN, Perindo, PPP, PKS dan NasDem.
Di kelompok dua ini, parpol berpotensi berada di papan tengah alias parpol menengah. Dari parpol kelompok ini, hanya PKB yang perolehan suaranya meningkat, meski tak setinggi di Pemilu 2014. Efek elektoral ini dinilai karena gencarnya kampanye Ketum PKB Muhaimin Iskandar menjadi cawapres. Enam partai lainnya, cenderung mengalami tren menurun.
Sementara kategori ketiga, masuk ke dalam parpol yang perolehan suaranya di bawah empat persen. Ada enam parpol yang menurut Kompas masuk ke dalam kategori terbawah ini. Tiga di antaranya parpol baru yakni, PSI, Partai Garuda dan Partai Berkarya. Sementara tiga lainnya adalah partai lama yakni Hanura, PKPI dan PBB. Parpol dikategori ini menghadapi tantangan berat untuk bisa lolos parlemen yakni 4 persen.
Menanggapi jebloknya suara Hanura, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) meyakini, partainya akan lolos ke Senayan. Sebab, banyak masyarakat mendaftarkan diri menjadi calon legislatif via Partai Hanura.
"Oh pasti, karena semakin banyak orang mendaftar ke Hanura sebagai caleg, baik unsur tokoh masyarakat. Saya juga jadi bingung," kata OSO di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (25/4).
OSO mengakui sejumlah lembaga survei merilis elektabilitas Hanura di bawah 4 persen. Namun, dia menuturkan, Hanura telah memiliki strategi untuk mendongkrak elektabilitas partai hingga lolos ambang batas parlemen.
"Kita tunggu saja tanggal mainnya," tandas OSO.
Loyalitas pemilih partai
Litbang Kompas juga mencatat terkait loyalitas pemilih partai politik. Dari ketiga kategori ini, hanya beberapa partai yang memiliki pemilih loyal yang teruji.
Diurutkan sesuai nomor peserta pemilu, PKB hanya memiliki strong voters atau pemilih mantap yakni 22 persen, sisanya 66,1 persen masih bisa berubah (swing voters) dan 11,9 persen rahasia.
Partai Gerindra punya strong voters 38,9 persen, swing voters 49,6 persen dan yang rahasia 11,5 persen. Berikutnya PDIP memiliki 39,1 pemilih loyal, 49,6 masih bisa berubah, masih rahasia 7,5 persen.
Pemilih loyal Golkar sebesar 37,2 persen, masih bisa berubah 50 persen dan rahasia 12,8 persen. NasDem punya pemilih loyal 36,7 persen, masih bisa berubah 56,7 persen dan rahasia 6,6 persen.
PKS hanya punya 31,0 pemilih loyal, masih bisa berubah 55,2 persen dan yang merahasiakan 13,8 persen. Sementara Perindo punya 33,3 persen pemilih loyal, masih bisa berubah 66,7 persen.
PPP punya 26,9 persen pemilih loyal, yang menyatakan masih bisa berubah 73,1 persen. Berikutnya, PAN punya pemilih loyal dan tak loyal di angka yang sama yakni 46,7 persen, masih rahasia 6,6 persen.
Terakhir, Demokrat hanya punya 27,3 persen pemilih loyal. Sisanya, 66,7 persen masih bisa berubah dan 6,0 persen menjawab rahasia.
Sementara itu, responden survei yang menjawab belum tahu atau rahasiakan partainya yakni pemilih setia 4,0 persen, masih bisa berubah 65,6 persen dan rahasia 30,4 persen.
Survei ini dilakukan dengan tatap muka terhadap 1.200 responden pada . Responden dipilih secara acak bertingkat di 32 provinsi dan jumlahnya ditentukan secara proporsional. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error plus minus 2,8 persen. 

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post