Jumat, 27 April 2018

Sembunyi di Sentul, Novanto Pantau Pergerakan KPK Lewat Televisi



Bruniq.com - Terdakwa korupsi proyek e-KTP Setya Novanto mengaku berada di sebuah hotel di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, ketika penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencari-carinya pada 15 November 2017. Saat itu, Novanto mendapat surat panggilan untuk diperiksa penyidik lembaga antirasuah itu.

Kepada majelis hakim, mantan Ketua DPR itu mengatakan, pergi ke daerah Cibulan, Bogor dari rumahnya di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sekitar pukul 19.30 WIB. Namun, di tengah perjalanannya, Novanto mendapat kabar melalui ajudannya, Reza Pahlevi, bahwa dirinya akan diciduk oleh penyidik KPK.

"Dalam perjalanan itu, kami diberi tahu bahwa di rumah itu ada beberapa polisi," katanya saat bersaksi untuk terdakwa Bimanesh Sutarjo dalam perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP, di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Jumat (27/4).

Lantaran mendengar kabar ada penyidik KPK mendatangi rumahnya, Novanto memerintahkan Reza untuk mencari tempat beristirahat sembari memantau perkembangan yang terjadi.

"Saya minta (jalan) terus saja. Cari tempat yang ada Tv-nya, kami dengarkan apa sih masalahnya," kata mantan Ketua Umum Partai Golkar itu.

Novanto lantas memutuskan bermalam di sebuah hotel bersama ajudannya itu. Selain Reza, dia juga ditemani oleh Aziz Samual, politikus Partai Golkar.

Di hotel itu, Novanto melihat perkembangan aktivitas penyidik KPK di rumahnya. Novanto mengaku, melihat berita besar malam itu dari televisi.

"Ya, saya lihat besar sekali (beritanya), rumah Ketua DPR sedang digeledah. Dicari. Ketua DPR nggak ada," kata Novanto.

Saat itu dia berstatus sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. Keesokan paginya, 16 November 2017, Novanto langsung menelepon kuasa hukumnya saat itu Fredrich Yunadi selepas bangun tidur.

Mantan Bendahara Umum Partai Golkar itu mengaku, menanyakan kondisi keluarganya kepada Fredrich. Waktu itu, Fredrich turut menginformasikan bahwa ada surat penahanan dari penyidik KPK.

"Pak Nov, kelihatannya ada surat untuk penahanan. Ya sudah, nanti saya akan pelajari. Karena sudah dijelaskan penahanan, kami putuskan saja (untuk datang ke KPK)," kata Novanto membeberkan perbicangannya dengan Fredrich.

Muter-muter di Jalan
Novanto akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta pada hari itu juga sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu, Novanto sudah menyampaikan akan mendatangi Gedung KPK pada malam hari, ditemani Ketua DPD I Golkar seluruh Indonesia.

Sebelum ke Gedung DPR, Novanto mengaku sempat berputar-putar terlebih dahulu di jalan lantaran macet. "Putar-putar dulu di jalan, sambil ngecek. Jam satu (siang) sudah sampai di Jakarta," paparnya.

Dia mengaku tiba di Gedung DPR pada sore hari. Namun, dari kompleks Senayan dia mengaku tak langsung ke Gedung KPK, melainkan menuju ke studio Metro TV untuk sebuah program.

Nahas, sebelum sampai tujuan, mobil yang dikemudikan oleh Hilman Mattauch, mantan wartawan Metro TV itu, mengalami kecelakaan. Novanto pun dilarikan ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau.

Saat tengah dalam perawatan, sejumlah penyidik KPK kemudian mendatanginya. Novanto hanya semalam di RS Medika Permata Hijau.

Ia dijemput beberapa penyidik KPK dan dipindahkan ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dua malam dia terbaring di sana.

Setelah itu, pada Minggu, 19 November 2017, Novanto dibawa ke KPK untuk dilakukan penahanan. Kini mantan Ketua DPR RI itu telah divonis 15 tahun kurungan penjara dan denda Rp 500 juta dengan subsider tiga bulan kurungan.



Next article Next Post
Previous article Previous Post