Senin, 23 April 2018

Salam Dua Periode!! Jokowi Makin Perkasa, Prabowo-Gatot Menciut

Loading...
Bruniq.com Jakarta - Posisi Presiden Joko Widodo kian perkasa jelang Pilpres 2019. Sementara pesaingnya, Prabowo Subianto dan Gatot Nurmantyo terus menciut.

Hal ini terlihat dari survei elektabilitas bakal capres 2019 yang dilakukan litbang Kompas. Dari hasil survei ini, elektabilitas Jokowi sebesar 55,9 persen, kemudian Prabowo hanya memperoleh 14,1 persen, dan Gatot tinggal 1,8 persen.

Perolehan angka Jokowi meningkat dibanding survei 6 bulan lalu yang berada di angka 46,3%. Sementara elektabilitas Prabowo menurun cukup banyak. 6 bulan lalu, elektabilitas Ketum Partai Gerindra itu berada di posisi 18,2 persen.

Sama halnya dengan Prabowo, elektabilitas Gatot juga mengalami penurunan. Elektabilitas mantan Panglima TNI itu 6 bulan lalu ada di angka 3,3 persen.


Kenaikan elektabilitas Jokowi seiring dengan kenaikan kepuasan terhadap Pemerintah yang terus naik. Dalam survei ini, kepuasan terhadap Pemerintah tercatat mencapai 72,2 persen. Angka ini naik dari survei 6 bulan lalu, yang mencatat kepuasan terhadap pemerintah 70,8 persen.

Survei tersebut dilakukan pada 21 Maret hingga 1 April 2018. Survei dilakukan kepada 1.200 secara periodik. Populasi survei adalah warga Indonesia berusia di atas 17 tahun. Responden dipilih secara acak bertingkat di 32 provinsi dan jumlahnya ditentukan secara proporsional. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen dengan margin of error plus minus 2,8 persen.

Tentu saja hasil survei ini mendapat tanggapan positif dan negatif. Dari kubu Jokowi, survei mendapat sambutan hangat. Partai pengusung utama Jokowi, PDIP menilai survei ini membuktikan Jokowi tidak melakukan pencitraan.


"Saya percaya masyarakat sekarang ini melihat hasil nyata dari kinerja yang sudah dilakukan oleh pemerintahan Jokowi. Data survei Litbang Kompas ini menjadi fakta dan bukti bahwa sebenarnya siapa yang sedang berkampanye dengan pencitraan dan siapa yang sedang bekerja untuk rakyat. Masyarakat sudah cerdas dan bisa menilai," ujar politikus PDIP Charles Honoris kepada wartawan, Senin (23/4/2018).

"Kalaupun selama ini Jokowi dianggap hanya pencitraan belaka, nyatanya hasil survei terhadap Jokowi terus naik. Ini membuktikan Jokowi semakin dicintai oleh rakyat karena kerja dan hasilnya bisa dirasakan sampai wilayah terpencil di Indonesia," imbuh anggota Komisi I DPR itu.

Sementara itu Gerindra menanggapi negatif hasil survei yang menyisikan angkat 14,1 persen untuk sang ketum. Waketum Gerindra Fadli Zon bahkan mempertanyakan metodologi survei yang digunakan dalam penelitian Litbang Kompas. 

Jokowi Makin Perkasa, Prabowo-Gatot MenciutFoto: Prabowo Subianto. Twitter @Fadlizon

"Ya saya juga bisa bikin survei yang bikin Pak Prabowo menang. Gampang," tegas Fadli.

Menurut Wakil Ketua DPR itu, saat ini mayoritas masyarakat menginginkan pergantian presiden di momentum Pilpres 2019. "Ini nggak hanya 1-2 survei ya. Tinggal tergantung apa pernyataannya. Metodologinya seperti apa, apa yang ditanyakan, dan representasinya seperti apa. Itu tadi," paparnya.

Tanggapan dingin terhadap survei ini juga dilontarkan relawan Gatot, Relawan Selendang Putih Nusantara (RSPN). Mereka menyatakan tidak percaya dengan hasil survei.

"Biar saja kalau survei-survei. Survei berdasarkan apa? Ndak percaya kita dengan survei, kita tahu siapa yang buat," ujar Sekjen RSPN Sumiarsi.

Jokowi Makin Perkasa, Prabowo-Gatot MenciutFoto: Gatot Nurmantyo. (Rachman Haryanto/detikcom).

Hal berbeda diperlihatkan oleh Partai Demokrat, partai yang selama ini menyatakan sebagai penyeimbang. Meski tokoh-tokoh lain elektabilitasnya sangat rendah, Demokrat masih tetap optimis.

Hingga saat ini Demokrat belum menunjukkan sikap resmi mereka soal Pilpres 2019. Namun partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu masih terus bermanuver untuk mewujudkan poros ketiga guna memunculkan capres alternatif.

"Ada kemungkinan itu. Kalau bisa atau tidak bisa dikalahkan, mungkin. Kemungkinan masih terbuka, tinggal tunggu. Seperti dulu kita lihat ada figur baru, karena apa? Bukan kemudian di demokrasi, kita tidak ingin memberikan sedikit pilihan ke masyarakat. Jadi lebih banyak lebih bagus," sebut Waketum PD Nurhayati Assegaf, Senin (23/4). 

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post