Jumat, 27 April 2018

Pertemuan 2 Jam Bogor Dirusak Konpers 30 Menit. Ini Kata Kapitra

Loading...
Bruniq.com- Koordinator Tim Advokasi Pembela Agama Kapitra Ampera menyesalkan sikap ulama yang terkesan emosional terhadap pertemuan antara Tim 11 Ulama Alumni 212 dan Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Padahal, kata Kapitra sikap Jokowi sudah sangat elegan dalam menanggapi pertemuan tersebut kepada publik. Menurutnya sikap emosional hingga tudingan ulama kepada Jokowi justru memperkeruh suasana.

Kapitra bilang pertemuan antara perwakilan Persaudaraan Alumni 212 dan Jokowi merupakan rangkaian komunikasi yang telah dibangun pihaknya untuk menyelesaikan masalah kriminalisasi ulama.


"Yang saya sesalkan, respons ulama sangat emosional dan menyerang, sampai menuding presiden tidak bisa terima kasih." ujar Kapitra melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/4).


"Ini justru memperkeruh. Jadi pertemuan dua jam yang apik dan penuh kebaikan, rusak karena 30 menit konferensi pers," terang Kapitra.

Kapitra mengatakan Tim 11 Ulama Alumni 212 merupakan bentukan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab untuk mencari jalan keluar penyelesaian kasus-kasus kriminalisasi ulama.

Untuk sampai pada pertemuan tersebut, Kapitra mengaku telah membangun komunikasi dengan Jokowi sejak Idul Fitri tahun 2017 lalu. Ia bahkan harus bolak-balik ke instansi terkait, dalam hal ini Mabes Polri dan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) untuk merealisasikan itu.

"Pertemuan dengan presiden saat itu ditindaklanjuti dengan komunikasi ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menko Polhukam Wiranto dan jajaran Badan Intelegen Negara (BIN). Sampai pada titik kesimpulan bahwa kita sepakatilah, artinya 'rekonslisiasi' antara ulama dan umara," kata Kapitra.

Kapitra juga menyesalkan sikap ulama yang meminta untuk mengusut penyebar foto pertemuan antara Tim 11 Alumni 212 dan Jokowi. Pasalnya, wajar jika foto itu tersebar karena pertemuan dilaksanakan di dalam masjid yang notabenenya banyak orang berseliweran.

Justru, kata dia, apabila pertemuan ini ditutup-tutupi akan menimbulkan interpretasi negatif dari umat muslim. Menurutnya umat muslim perlu tahu adanya pertemuan ini agar tidak terjadi fitnah.

"Umat tahu, lebih baik. Artinya tidak ada stagnansi dalam upaya perjuangkan keadilan. Malah umat harus tahu," kata dia

"Kalau dia sembunyi-sembunyi, umat akan berfikir 'ada apa? Apa yang terjadi dengan ulama? Mengapa ulama sembunyi-sembunyi? Kenapa ulama tidak sampaikan pada umat? Bisa-bisa muncul fitnah yang justru menyerang ulama itu sendiri," pungkasnya
.

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post