Senin, 30 April 2018

Nah Lho. Surat Adian ke Fadli, Soeharto Bapak Tenaga Kerja Asing

Bruniq.com Jakarta – Pro kontra Tenaga Kerja Asing (TKA) dimulai dari Peraturan Presiden No 20/2018 Tentang Kemudahan Administrasi pekerja asing dalam level tertentu. Perpres ini sejatinya diharapkan bisa menarik penanam modal asing atau investor untuk membuka usahanya di sini dan pada gilirannya justru menciptakan lapangan pekerjaan baru.


Yang perlu diingat, Perpres itu hanya mengatur kemudahan administrasi pekerja asing dalam level pekerjaan tertentu, bukan tenaga kasar. Perpres itu tidak salah, mestinya. Namun, apa pun yang dibuat oleh Presiden Jokowi, pasti disantap dan dimuntahkan para lawan politik seenak perutnya.

Adian Napitupulu, mantan aktifis yang gencar melawan Orde Baru dan kini menjadi politisi PDI Perjuangan, partai pendukung Presiden Jokowi pun tak kuasa menahan kegeraman melihat politisi lawan yang seenaknya membuat framing atas Perpres tersebut. Dalam rilis yang diterima Tagar sore ini, Adian menulis;

Rillis ini saya tulis untuk Peringatan 20 tahun Reformasi sekaligus menjawab tudingan Fadli Zon kepada Jokowi.

Soeharto Bapak Tenaga Kerja Asing

Entah Fadli Zon lupa atau pura pura tidak tahu sejarah saat ini Fadli Zon mati-matian menuding Jokowi ada di belakang masuknya Tenaga Kerja Asing. Berlagak bagai pahlawan kesiangan, Fadli bahkan mengancam akan mengajukan pansus hak angket terkait Perpres 20 tahun 2018.
Mereka yang berpendidikan dan mengerti sejarah tentu tahu bahwa yang membuka pintu gerbang masuknya Tenaga Kerja Asing yang ada hari ini bukanlah keputusan Jokowi melainkan keputusan yang di ambil oleh mertua Prabowo, yaitu Soeharto, yang embrionya sudah di desain sejak tahun 1989 saat Soeharto menyetujui usul Bob Hawke untuk bergabung di APEC.

Pertemuan pertama APEC tahun 1993 di prakarsai oleh Presiden Amerika saat itu yaitu Bill Clinton dan PM Australia Paul Keating di pulau Blake.
Setahun kemudian Pertemuan APEC tahun 1994 di Bogor menghasilkan Bogor Goals isi nya adalah mendorong investasi terbuka Asia Pacific yang ditargetkan di mulai 16 tahun kemudian yaitu tahun 2010.

Selanjutnya pada tahun 1995 di bentuklah AFTA (Asean Free Trade Area) dan atas keputusan Soeharto Indonesia ikut bergabung di dalamnya. AFTA ini kelak di kemudian hari menjadi cikal bakal MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dengan limitasi waktu pasar bebas di mulai dari tahun 2015.

Pematangan AFTA terus berlanjut hingga KTT ASEAN (Tidak resmi) pada bulan Desember 1997 dilanjutkan KTT ASEAN di Hanoi Vietnam pada bulan Desember 1998 yg menghasilkan Statement Of Bold Measures yang isinya meneguhkan komitmen pelaksanaan AFTA yang dipercepat satu tahun dari 2003 menjadi 2002.

Sebagai upaya lanjutan di KTT tahun 2001 di Brunei dibentuk lagi CAFTA (China Asean Free Trade Area) yaitu perjanjian perdagangan bebas antara negara negara ASEAN dan Negara China selama 10 tahun. Pengesahan CAFTA selanjutnya di lakukan pada tahun 2008.


Pansuskan Soeharto

Berangkat dari sejarah panjang lahirnya Pasar Bebas Barang, Jasa dan Tenaga Kerja di Indonesia yang dimulai dari tahun 1989 tersebut di atas, maka sepertinya pantas jika Soeharto diangkat menjadi Bapak Tenaga Kerja Asing. Di sisi lain, niat Fadli Zon untuk mempansuskan Perpres 20 tahun 2018 tentunya tidak tepat.

Jika mau dipansuskan maka baiknya yang dipansuskan adalah keputusan awal Indonesia bergabung di APEC dan serangkaian hasil keputusan Internasional lainnya yang terkait dengan pasar bebas barang, jasa serta tenaga kerja yang semua itu di putuskan sebelum Jokowi menjadi Presiden.

Masalah pertama adalah apakah Fadli Zon punya keberanian untuk mempansus-angketkan Soeharto yang nota bene adalah mertua Prabowo?

Masalah ke dua, apakah bisa DPR mempansus-angketkan orang yang sudah meninggal dunia dan tidak lagi bisa dipanggil DPR untuk dimintai keterangan dan penjelasannya?

Masalah ke tiga, kenapa Fadli Zon yang diangkat Soeharto menjadi anggota MPR dan dilantik pada tanggal 19 Agustus 1997 tidak menolak pelaksanaan dan keputusan-keputusan Soeharto yang terkait dengan pasar bebas termasuk menolak hasil KTT ASEAN di Hanoi tahun 1998 padahal MPR saat itu kedudukannya adalah Lembaga Tertinggi Negara yang berada di atas Presiden.

Fadli Zon memang terbukti tidak pernah konsisten. Mulutnya menolak komunisme tapi tangannya mengantar mawar merah ke makam Karl Marx, mulutnya menolak komunis tapi tangannya merangkul patung Lenin dan menyebut Lenin dengan kata Kamerad yang berarti saudara separtai.

Fadli Zon dulu sebagai anggota MPR setuju pasar bebas barang, jasa dan tenaga kerja tapi sekarang menolak buah dari rangkaian perjanjian pasar bebas yang dibuat di masa Soeharto.

Pilihan Jokowi saat ini hanya dua. Pertama menolak rangkaian perjanjian internasional pasar bebas yang embrionya sudah di desain 29 tahun lalu dengan konsekuensi Indonesia menjadi lawan dunia Internasional dan mungkin saja terkena aneka macam sanksi apakah embargo atau lainnya.
Pilihan Jokowi yang ke dua adalah berupaya memperlambat dan melakukan pengetatan dengan berbagai kebijakan agar ada nafas lebih panjang bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi pasar bebas barang, jasa dan tenaga kerja buah dari keputusan Soeharto 29 tahun lalu, salah satunya dilakukan Jokowi dengan mengeluarkan Perpres 20 tahun 2018 yang salah satu substansi isinya mengatur tentang sanksi TKA yang tidak diatur di peraturan sebelumnya.

Jakarta 30 April 2018
Hormat Saya


Adian Napitupulu
Anggota DPR RI FPDI Perjuangan.
Sekjen PENA 98
Disarankan ...

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post