Senin, 30 April 2018

Mahfud MD Tegas Angkat Bicara Soal Insiden Di CFD Yang Viral, Ini Pernyataan Mahfud MD


Bruniq.com - Dalam konteks Indonesia yang majemuk atau multikultural Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah Islam moderat, yakni Islam inklusif dan menerima perbedaan sebagai fitrah (keniscayaan) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Penerimaan (akseptasi) atas perbedaan itu berlaku baik di internal umat Islam sendiri maupun antara umat Islam dengan umat-umat yang beragama lain," ungkap Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA-­UII) Yogayakarta, Mahfud MDkepada Tribunnews.com saat menyampaikan pesan pada acara Jalan Sehat IKA-UII DKI Jakarta di kawasan Semanggi, Minggu (29/4/2018) pagi.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI periode 2008-2013 itu juga mengatakan bahwa kemajemukan Indonesia bukan hanya majemuk agama, suku, ras, daerah, bahasa melainkan juga di internal satu agama sendiri.

"Kita lihat saja misalnya, di dalam Islam masih beragam juga aliran pemahamannya tentang berbagai hal mulai dari fiqh ibadah sampai ke fiqh muammalah," kata Mahfud.

Oleh sebab itu menurutnya para pendiri negara kita sudah tepat memilih Pancasila sebagai dasar ideologi yang dalam hubungan antara negara dan agama menganut religious nation state, negara kebangsaan yang berketuhanan.

Guru Besar serta Ketum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-­HAN) se-Indonesia itu juga mengatakan di dalam religious nation state setiap orang menerima perbedaan dan tidak boleh berlaku diskriminatif terhadap pihak lain.

"NKRI ibarat sebuah rumah yang banyak kamarnya dengan penghuninya masing­masing. Pada saat di dalam kamar setiap orang boleh memakai baju apa saja, menyetel channel teve apa saja, memakai ac atau kipas angin dengan suhu yang dikehendaki masing-masing," ujar Mahfud.

Tetapi jika sudah di ruang keluarga, maka televisinya harus dalam channel yang sama, beragam menu makanannya dinikmati bersama.

"Itulah Bhinneka Tunggal Ika. Itulah pluralisme," kata Mahfud MD mengutip pengibaratan yang pernah disampaikan oleh mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Mahfud MD lantas mencontohkan bahwa UII yang kini memiliki lebih dari 100.000 alumni dulunya didirikan oleh para tokoh agama dan tokoh bangsa dari berbagai aliran.

Dari Muhammadiyah ada Kiai Abdul Kahar Muzakkir, dari NU ada Kiai Wahid Hasyim, dari Persatuan Umat Islam (Majalengka) ada Kiai Halim, dari Persatuan Umat Islam Indonesia (Bengkulu) ada Kiai Anis.

Kemudian ada tokoh-tokoh Islam yang tidak berafiliasi kepada ormas tertentu seperti Muhammad Hatta, Ahmad Zarkasyi (Gontor), dan Satiman Wirjosandjojo.

Bahkan Soemitro Djojohadikoesoemo yang non-muslim ikut mengajar dan pernah menjadi dekan di Fakultas Ekonomi UII di Yogyakarta.

"Jangan lupa UII yang semula bernama STI ini didirikan oleh Bung Hatta dan diresmikan oleh Bung Karno pada tanggal 8 Juli 1945," kata dia.

Kerena ke-Indonesia-annya yang kental, ketika pada tahun 1946 ibu kota Republik berpindah ke Yogyakarta maka UII juga ikut hijrah ke Yogyakarta yang selanjutnya menjadi tempat kedudukannya secara hukum sampai sekarang.

"Jadi almamater kita, UII Yogyakarta, merupakan miniatur Indonesia yang sangat beragam dan dibangun sebagai wujud perkhidzmatan umat Islam kepada NKRI yang berdasar Pancasila. Di UII dibangun jiwa kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme yang mengembangkan Islam moderat guna menyebarkan islam sebagai rahmat bagi seluruh alam," kata dia.

Intinya, menurut Mahfud, Islam rahmatan lil’alamiin itu adalah Islam yang nyaman untuk semua, tidak mengancam pihak lain, dan tidak usil terhadap keyakinan orang lain.


"Saya sering mengatakan tugas dakwah kita sebagai muslim adalah ‘mengindonesiakan Islam’, bukan ‘mengislamkan Indonesia’, ya," kata Mahfud MD yang disambut tepuk tangan meriah oleh alumnus yang berdatangan dari Jakarta dan sekitarnya.
Disarankan ...

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post