Jumat, 06 April 2018

JELAS!! Puisi Sukmawati adalah Karya Sastra, Tidak Menista Agama. Ini Kata Ahli Bahasa

Bruniq.com -Puisi berjudul 'Ibu Indonesia' yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri di pagelaran busana Anne Avantie di JCC Rabu (28/3) memunculkan polemik di masyarakat. Pasalnya, dalam puisi itu Sukmawati dianggap menyinggung syariat Islam, termasuk penggunaan cadar hingga Azan.


Namun, menurut ahli bahasa, Frans Asisi Datang, puisi Sukmawati tidaklah menyinggung suatu agama. Menurutnya puisi tersebut adalah puisi cinta tanah air yang mengajak pembaca untuk sadar akan keindahan dan kecantikan tanah air.

"Tulisan tersebut merupakan sebuah karya sastra. Karya sastra tidak bisa disamakan dengan karya lainnya seperti jurnalistik, karya ilmiah, dan lain-lain," kata Frans dalam keterangan tertulis kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (4/4).

Dalam karya sastra, unsur yang dominan adalah imajinasi, menurut Frans pengarang bermain dengan kata-kata untuk menghadirkan imajinasi ke dalam sebuah karya sastra.
"Membaca dan menghadapi karya sastra tidak boleh disamakan dengan membaca dan menghadapi karya-karya tulis lainnya," lanjut Frans yang merupakan dosen linguistik dan juga pakar linguistik forensik dari UI itu.
Frans menambahkan bahwa dalam puisi 'Ibu Indonesia' pengarang memuja keindahan sari konde ibu Indonesia sebagai sesuatu yang lebih indah dari cadar.
"Frasa lebih indah di sini bermakna bahwa cadar itu indah tapi jika dibandingkan dengan sari konde ibu Indonesia, yang lebih indah adalah sari konde ibu Indonesia," tulisnya.
"Jadi, tidak ada sama sekali makna yang menjelekkan cadar dalam puisi tersebut," ujarnya.

Mengenai isi puisi yang membahas mengenai suara azan, menurut Frans, dalam puisi tersebut sama sekali tidak ada makna yang menyatakan bahwa suara azan jelek atau buruk.
"Pengarang mengakui suara azan itu merdu, tetapi ada yang lebih merdu, suara kidung Ibu Indonesia," tambahnya.
Selain itu, Frans juga menggarisbawahi penggunaan frasa Ibu Indonesia yang digunakan Sukmawati. Menurutnya, frasa itu mengacu pada bentuk puisi yang mengungkapkan kecintaan terhadap tanah air.
"Pengarang melambangkan Tanah Air dengan Ibu Indonesia. Begitu cintanya pengarang dengan Tanah Air, maka dia memuja habis-habisan Tanah Air tersebut," pungkasnya.



Next article Next Post
Previous article Previous Post