Selasa, 27 Maret 2018

Salam Dua Periode!! Keberadaan PPP menegaskan koalisi Jokowi nasionalis-religius

Bruniq.com- Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berharap, sikap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini berada dalam pemerintahan, ikut mendeklarasikan Joko Widodo atau Jokowi sebagai capres di 2019. Lima partai lainnya, PDIP, Golkar, PPP, Hanura dan NasDem telah lebih dulu deklarasi.
    Ketua PPP Romahurmuziy atau Romi menegaskan, partai-partai yang sudah bersama Jokowi, sudah pasti memberikan kemudahan untuk menggapai kemenangan. Bukan hanya faktor satu partai saja.
    "Partai-partai yang hari ini bersama Jokowi, akan lebih memberikan kemudahan untuk proses pemenangan. Kita tahu persis 2014 lalu, angkanya cukup ketat. 5 Lawan 4 partai. Kali ini ada 5 partai yang di sini dan kita belum tahu sikap 2 partai dalam koalisi Jokowi, PAN dan PKB. Kita tunggu dan kita harapkan bergabung. Tapi kalau memiliki sikap berbeda itu adalah hak mereka," ucap Romi di kantornya,Jakarta, Senin (26/3).
    Dia mengutarakan, keberadaan PPP bersama PDIP, Golkar, Hanura, dan NasDem, memastikan koalisi pendukung Jokowi adalah gabungan antara nasionalis-religius. Bahkan menurut Romi, ini bisa saja mencerminkan Capres-Cawapres yang akan diusung.
    "Jadi kalau dibilang bahwa ada atau tidak keuntungan PPP mengusung Jokowi, sebelum cawapresnya belum ditetapkan, saya katakan justru keberadaan PPP itu memastikan keberadaan koalisi yang terbentuk dari 5 parpol pendukung itu adalah koalisi nasioalis-religius. Tentu ini akan terefleksikan juga dalam pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan kita usung," ungkapnya.
    Dia menepis, jika ada rivalitas dengan PKB. Menurutnya, jika sudah tergabung dalam koalisi, seperti itu tidak ada. Hal ini menyikapi sikap PPP yang menolak pelantikan pimpinan MPR RI yang baru.
    "Kita tidak ada rivalitas dengan sesama pendukung koalisi Jokowi. Yang kita lakukan ini bukan berurusan dengan partai politik tertentu. Ini urusan konsistensi sikap PPP. Kami enggak ada urusan dengan partai-partai tertentu," tutur Romi.
    Pendamping Jokowi
    Romi menjelaskan, Cawapres Jokowi bukan berkaitan dengan konstelasi politik 2024. Menurutnya terlalu jauh.
    "Rasanya terlalu jauh 2024 jadi pertimbangan. Wong mikir 2019 enggak kelar. Ya kalau saya tidak mempertimbangkan 2024 jadi faktor ya. Karena kita bicara kondisi hari ini, politik hari ini, dengan atmosfir hari ini. Kita berbicara yang sekarang saja. Kalau kita bicara 2024 tapi 2019 enggak dapat, gimana? Jadi kita berbicara pertimbangan hari ini," jelas Romi.
    Dia menyadari bahwa Pilpres mirip dengan Pilkada. Sehingga peran figur atau tokoh, menjadi keutamaan.
    "Saya kira Pilpres dan Pilkada itu mirip-mirip. Jadi berapa persen partai pengusung itu figur yang akan lebih menentukan kemenangan. Kalau kita lihat hari ini survei yang digelar, bahkan ada survei yang kita tengarai dibiayai pihak non koalisi jokowi, itu juga menunjukan pak jokowi masih berada diatas 50%. Jadi teoritis berdasarkan sejarah indonesia, agak sulit memang bayangkan ada penantang yang bisa kalahkan Pak Jokowi. Meskipun, dalam polittik semua mungkin," kata Romi.



    Next article Next Post
    Previous article Previous Post