Minggu, 11 Maret 2018

Orang Ini Bongkar Kewalahan Lawan Politik Jokowi Untuk Mencari Simpati Rakyat Di Pilpres 2019, Ternyata Ini ...



Bruniq.com - Pengamat politik Boni Hargensmenilai kelompok oposisi saat ini kehilangan isu yang elegan untuk menyerang pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Presiden Jokowi justru mampu memperlihatkan integritas sebagai pemimpin lewat kerja cepat dan menghadirkan narasi berdasarkan fakta," kata Boni, di Jakarta Sabtu (10/3/2018).

Menurut Boni, kinerja Jokowi yang moncer membuat sejumlah pihak menggunakan media sosial untuk mengumbar hoaks dan fitnah terhadap mantan wali kota Solo tersebut. Adapun tujuan ini demi menggerus elektabilitas Jokowi pada Pemilu 2019mendatang.

"Kondisi diperparah absennya aturan sejak awal membuat medsos menjadi hutan rimba. Fitnah, kepalsuan dan kampanye hitam dibangun tanpa kelihatan secara jelas siapa arsitek dan pekerja lapangan dari proyek fake democracy yang abu-abu itu," paparnya.

Direktur  Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini mencontohkan beberapa berita bohong yang sempat viral di media sosial. Antara lain hoaks kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), pemerintahan anti-Islam, eksodus warga negara Tiongkok untuk menguasai RI, serta rumor pembantaian terhadap tokoh agama.

"Ini merupakan rekayasa yang tidak bermoral. Presiden Jokowi dijadikan sasaran tembak dari semua rekayasa dan kampanye hitam tersebut," ujarnya.

Dia juga menyinggung soal langkah Polri mengungkap dua kelompok penebar hoaks dan ujaran kebencian, yakni Saracen dan Muslim Cyber Army (MCA). Dua komunitas siber itu dikenal paling aktif menyerang pemerintahan Presiden Jokowi.

"Dari fakta yang ada, saya menyimpulkan oposisi politik telah kehilangan makna. Oposisi belakangan ini dipahami sebagai upaya menghalalkan segala cara merebut kekuasaan. Isu SARA (suku, agama, ras dan antar-golongan, red) dihidupkan, politik uang dijalankan dan kampanye hitam terus dilancarkan," tutup Boni Hargens.


Next article Next Post
Previous article Previous Post