Senin, 05 Maret 2018

MCA Ditangkap Polisi. Ini Kata Persaudaraan 212

Bruniq.com Jakarta - Penasihat Persaudaraan 212 Kapitra Ampera mengaku tak mengenal satu pun tersangka personel Muslim Cyber Army (MCA) yang terjerat kasus penyebaran hoax, isu SARA, dan ujaran kebencian di kepolisian. Kapitra mengatakan pihaknya memiliki Muslim Cyber Army, tetapi tidak menyebarkan konten negatif.


"Jadi MCA in Family, kami ini baru mengenal mereka dan kami tidak tahu mereka punya jaringan dari mana. Dan mereka bukanlah MCA yang sebenarnya, karena MCA itu adalah satu kegiatan untuk menangkal hoax, meluruskan berita fitnah, bukan menyebarkan berita fitnah," kata Kapitra di Masjid At-Taqwa, Jl Sriwijaya, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (5/3/2018).


"Jadi saya ingin mengatakan ini tidak ada hubungannya (MCA yang ditangkap polisi) dengan gerakan MCA yang selama ini ikut dalam perjuangan Aksi Bela Islam," sambung Kapitra.

Kapitra menerangkan MCA yang sebenarnya mengunggah konten-konten yang dapat dipertanggungjawabkan dan berbentuk komunitas.


"Kontennya bisa dipertanggungjawabkan. MCA itu yang ikut Aksi Bela Islam. Tidak ada struktur dan organisasinya. Dia hanya komunitas. MCA kita itu saya kenal banget orang-orangnya. Kalau yang ditangkap saya nggak kenal sama sekali," ujar dia.


Kapitra menduga ada kelompok lain yang menggunakan nama MCA dan melakukan kegiatan-kegiatan yang mencoreng nama Islam sendiri.



"Ada kelompok-kelompok lain yang waktu Aksi Bela Islam katanya bikin kegaduhan lalu ditangkap, itu dugaan, ya. Itu kelompok lain yang memakai nama Islam untuk mendiskreditkan Islam," lanjut dia.

Kapitra menceritakan saat ini dia sedang membentuk Tim Advokasi Pembela Agama (TAPA) untuk memerangi orang-orang yang melakukan tindak kejahatan dengan memakai embel-embel Islam.

"Saya lagi melakukan Tim Advokasi Pembela Agama. TAPA namanya. Lagi investigasi siapa MCA in Family ini. Kami bekerja sama dengan polisi. Nanti kita ikut melaporkan dia karena dia mengatasnamakan agama untuk merusak agama, maka kita akan minta data kepolisian. Kita bentuk satu kelompok, ada tiga unit, satu unit (berisi) 18 orang," jelas Kapitra.

Kapitra menilai hoax sebagai ancaman bagi negara karena berisi informasi yang salah. Dia menjelaskan efek domino yang ditimbulkan oleh hoax.


"Perilaku masyarakat ditentukan cara berpikir. Kalau salah informasi yang didapat, akan salah cara berpikir, maka akan salah juga perilakunya. Dan ini yang terjadi. Saya lihat media sosial sudah sangat mematikan bangsa. Bangsa ini saya yakin roboh apabila tidak dikendalikan," ungkap Kapitra.


Dia khawatir Indonesia akan tinggal nama bila hoax merajalela. Analisis Kapitra, hoax membangun kekuatan politik antarkelompok untuk saling menjatuhkan. Cara menjatuhkan kelompok pun dengan mendiskreditkan kelompok yang dianggap sebagai lawan.


"Saya melihat banyak negara gugur karena horizontal conflictHoax di media sosial ini justru membangun kekuatan antarkelompok untuk saling bertempur dan ini dikelola oleh orang-orang yang punya kepentingan politik untuk melemahkan bangsa ini," tutur Kapitra.


"Dan menjadi alat untuk mendiskreditkan pemerintah, ulama, dan kelompok-kelompok agama lainnya," imbuh dia.



Kapitra menegaskan, bila ada pihak Persaudaraan 212 yang terlibat dalam penyebaran hoax, di internal organisasi tersebut, oknum itu tidak akan lagi dianggap ada karena Islam yang sesungguhnya mengajarkan kebaikan.


"Kalau dia dari Persaudaraan 212, lalu dia mendistribusikan hoax, berarti dia bukan lagi bagian dari Persaudaraan 212. Islam itu memberikan kebaikan, sama pohon saja ada tata cara menebang, apalagi nebang manusia. (Ujaran kebencian, hoax, dan isu SARA) itu bukan bagian dari Islam. Islam mengajarkan kebaikan, bukan kejahatan," tegas dia. 
Disarankan ...

Loading...

Next article Next Post
Previous article Previous Post