Senin, 05 Maret 2018

GEMPAR!! Gugatan ke Anies Soal Pribumi Berlanjut. Baca Selengkapnya....

Bruniq.com Jakarta – Apresiasi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terhadap budaya Tiongkok selama perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh 2018 menimbulkan sejumlah pertanyaan. Sementara itu, gugatan terkait dengan ujaran pribumi-nonpribumi yang dilakukan Anies Baswedan terus berlanjut. Tim Advokasi Anti Diskriminasi Ras dan Etnis (Taktis) menegaskan bahwa proses gugatan terus dilakukan sebagaimana telah berjalan sejak 14 Desember 2017 lalu.
“Proses persidangan masih terus berlanjut dan kami akan membuktikan sejumlah fakta-fakta yang mendukung gugatan kami,” kata salah satu kuasa hukum Taktis, Daniel Masiku, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Seperti diketahui, Taktis mengajukan gugatan kepada Anies Baswedan terkait ujaran yang diduga bernada rasis yang disampaikan tertulis pada tanggal 16 Oktober lalu. Selain Daniel, para pengacara yang saat ini bergabung dalam Taktis seperti Hermawi Taslim, Christianus Budi, Cosmas Refra, Vitalis Jenarus, Greg Retas Daeng, dan Viani Octavius.
Penegasan Taktis menunjukkan bahwa di tengah pimpinan DKI Jakarta menyerukan pentingnya keberagaman dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh, proses hukum atas tindakan yang mengarah memecah belah masyarakat terus dilakukan.
Dalam sidang terakhir di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pada Rabu (28/02) lalu, gugatan Taktis diisi dengan agenda replik sebagai pihak penggugat. Dalam dua sidang sebelumnya, tergugat atau kuasanya tidak hadir berturut-turut.
Dalam dalilnya repliknya, Taktis menyebutkan bahwa Anies bersalah karena terbukti melakukan perencanaan secara sistematis untuk melakukan diskirminasi ras etnis. Hal itu tampak dari isi naskah pidato Anies yang berbau rasis dan provokatif serta aksi pendukungnya di luar Gedung Balai Kota dan di beberapa titik lain di Jakarta pada saat bersamaan mengenakan atribut aksi (spanduk) bertuliskan konten-konten rasis.
“Para penggugat menyatakan bahwa munculnya spanduk 'Kemenangan Anies-Sandi adalah kemenangan pribumi muslim' muncul hanya beberapa saat setelah pidato tergugat. Terkesan bahwa spanduk dan pidato tergugat tersebut bukan hanya sebagai akibat tetapi terkesan merupakan satu rangkaian perbuatan secara terencana,” ujar Taktis dalam repliknya.
Selain itu, secara formil Anies juga dinilai melakukan penghinaan (contempt of court) terhadap proses persidangan dengan nomor perkara 588/PDT.GBTH.PLW.2017/PN.JKT.PST tersebut. Hal ini dibuktikan dengan sikap yang tidak menghadiri proses mediasi selam tiga kali berturut-turut. Padahal sudah ada aturan mewajibkannya untuk hadir.
“Sekalipun sudah ditegaskan Hakim Mediator dan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, namun tergugat lagi-lagi tidak hadir dalam sidang mediasi ketiga (terakhir) pada tanggal 17 Januari 2018,” tulis Taktis.

Bagi Taktis, menurut Daniel dan Greg, fakta-fakta perjalanan sidang mediasi diatas menunjukan bahwa tergugat telah beritikad tidak baik karena mengenyampingkan perintah dari Mahkamah Agung dan arahan dari hakim mediator dengan alasan sibuk kerja sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Greg yang juga juru bicara Taktis mengatakan bahwa pihaknya optimistis atas replik yang diajukan dan siap mengikuit proses sidang selanjutnya termasuk menghadapi duplik yang nanti akan disampaikan pihak tergugat.
Dalam sidang sebelumnya yang dipimpin hakim ketua Tafsir Sembiring Meliala pihak Taktis diwakili Daniel Masiku, Cristianus Budi, Cosmas Refra dan Greg R Daeng. Sedangkan dari pihak kuasa tergugat hadir Nadya Zunairoh dan Adityo Nugroho dari Biro Hukum Provinsi DKI Jakarta. Berdasarkan informasi yang diperoleh pihak panitera PN Jakarta Pusat, sidang selanjutnya akan digelar pada Rabu (7/3) dengan agenda duplik tergugat.



Next article Next Post
Previous article Previous Post