Rabu, 14 Maret 2018

Pak Tito Tidak Main-main!! Diringkus Polisi. Terungkap Satu Tahun Terakhir, Hacker Surabaya Black Hat kantongi Uang Sebesar Ini...

Bruniq.com - Polda Metro Jaya bersama dengan Polrestabes Surabaya dan Federal Bureau of Investigation (FBI) membongkar sindikat hacker internasional. Tiga pelaku yang dibekuk, ATP, NA dan KPS yang merupakan warga Surabaya ini terbilang mempunyai kemampuan yang mumpuni.
    Mereka mampu meretas 3.000 sistem elektronik dan 600 website yang berada di 44 negara (sebelumnya ditulis 40 negara) dan menamai diri Surabaya Black Hat (SBH).
    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan selama satu tahun terakhir beraksi, pelaku mampu mengantongi duit hingga Rp 200 juta.
    "Pengakuan tersangka, pendapatan yang mereka dapat selama tahun 2017 adalah berkisar Rp 50 sampai Rp 200 juta," ujar Argo kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Selasa (13/3).
    Argo menjelaskan, apabila situs korban sudah diretas, para pelaku meminta uang secara bervariasi. Kebanyakan, kata Argo, uang tebusan itu dipatok berkisar dari Rp 15 juta hingga Rp 25 juta persatu website.
    "Pembayaran uang tebusan itu dilakukan melalui akun paypal dan bitcoin. Mereka kirim email untuk minta tembusan. Minta uang ada Rp 20, Rp 25, Rp 15 juta itu dikirim via paypal. Kalau enggak mau bayar sistem dirusak," kata Argo.
    "Para pelaku bisa mendapatkan keuntungan Rp 15 hingga 25 juta per orang," sambung Argo.
    Pelaku masih berusia 21 tahun dan berstatus mahasiswa aktif jurusan Informasi Teknologi (IT) di salah satu kampus di Surabaya.
    Ketiga tersangka yang ditangkap dikenakan Pasal 29 ayat 2 Juncto Pasal 45 B, Pasal 30 Juncto Pasal 46, Pasal 32 Juncto Pasal 48 Undang Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektonik. Para pemuda ini terancam hukuman pidana 12 tahun penjara dan atau denda maksimal Rp 2 miliar.
    "Kita masih memburu tiga pelaku lainnya," tandasnya.
    Seperti diberitakan, penangkapan tiga pelaku itu berawalan dari Federal Bureau of Investigation (FBI). Yang mana ada pelaku peretas ratusan website berada di Indonesia.
    "Itu dari FBI, kita kan punya kerjasama antara FBI dari IC3 (Internet Crime Complaint Center) itu adalah pusat pengaduan Jakarta terbesar di Amerika. Jadi di Amerika sana ada data, bahwa ada peretasan sistem elektronik yang dilakukan oleh sekelompok orang di Indonesia," ujarnya.



    Next article Next Post
    Previous article Previous Post