Kamis, 15 Maret 2018

Menelusuri Kelahiran Muslim Cyber Army



Bruniq.com - Platform analisis media sosial Drone Emprit membongkar bagaimana asal mula pembentukan Muslim Cyber Army (MCA), kelompok penyebar ujaran kebencian dan hoaks di dunia maya. Benih MCA diyakini ada bersamaan dengan Pilkada DKI Jakarta 2017.

Analis data Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan, MCA baru muncul setelah aksi 411 pada November 2017. Metodologi penelusuran kelompok ini melalui jejaring sosial Twitter pun tak susah-susah amat. Sederhana.

Setiap kata kunci MCA atau Muslim Cyber Army dimasukkan dalam mesin pencari tren di Twitter. Setelah itu secara otomatis setiap orang yang 'berkicau' menyinggung nama tersebut akan terkumpul hanya dalam waktu kurang dari satu menit ke server Drone Emprit secara real time.


"Di awal 2016 belum saya temukan nama MCA di media sosial. Baru pada 13 Desember 2016, MCA muncul dan nanti ada event-event yang ternyata men-trigger kenapa ada panggilan bagi umat Islam untuk jihad siber," ujar Ismail mengawali percakapan dalam News Story Insight (NSI), Rabu, 15 Maret 2018.

Dari data yang dikumpulkan Drone Emprit, kelahiran MCA tak lepas dari berbagai aksi bela Islam yang sempat mewarnai tahapan Pilkada DKI Jakarta pada 2017 dan seruan-seruan yang datang dari akun FPI, imam besar FPI Rizieq Shihab, bahkan akun Maspiyungan yang ada di Twitter.

Dari sini, kata Ismail, ada dua kelompok yang 'seteru'; kelompok pro Islam dan pro pemerintah. Kedua kelompok ini, kata Ismail, terbentuk dari polarisasi percakapan di Twitter.

"Orang kalau saling re-tweet, artinya kan sependapat. Di sinilah polarisasi itu terbentuk secara otomatis. Dan kaitannya dengan MCA, di sinilah cikal bakalnya," kata Ismail.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi terbentuknya MCA maupun kelompok serupa lainnya adalah beredarnya video Rizieq Shihab di media sosial yang menyerukan siapa pun bisa menjadi pasukan pembela Islam dengan bergerak secara siber.

Tak berhenti di situ, pola serupa juga kembali muncul dalam aksi bela Islam berikutnya yakni pada 2 Desember 2017 atau lebih dikenal dengan aksi 212.

"Kaitannya, orang-orangnya, akun-akunnya milik mereka. Secara data 1 Mei sampai awal Desember belum ada penyebutan MCA, tapi mulai 13 Desember setelah 212 berhasil menggerakkan umat ada satu keyakinan bahwa umat bisa membangun kekuatan siber," ungkapnya.

Pilkada DKI Jakarta

Memasuki Januari 2017 ketika proses pilkada DKI semakin memanas, pertarungan di media sosial ternyata bukan hanya antara tiga pasukan pendukung calon gubernur dan wakil gubernur yang memperebutkan kursi. Ternyata ada satu pasukan lain yang juga ikut berperang; Muslim Cyber Army.

Pola yang dibaca Drone Emprit, tim media sosial pasangan Ahok-Djarot ada yang bertugas menyerang paslon Agus-Sylvi, dan Anies-Sandi. Dalam kesempatan yang sama tim ini juga melakukan promosi.

Hal serupa juga berlaku bagi tim pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi yang melakukan serangan ke pihak lawan yang bertarung di pilkada dan mempromosikan diri.

Menariknya, meskipun ketiga pasangan calon saling promosi dan menyerang, hanya pasangan Ahok-Djarot saja yang mendapatkan serangan bertubi-tubi dari pasukan Muslim Cyber Army.

Ketika semua pasangan calon melakukan kontra narasi, tim Ahok-Djarot terus digempur dengan peretasan sampai 'dibuatkan' akun berkonten hoaks. Pola ini kemudian membuat promosi dan kontra narasi yang diluncurkan tim media sosial Ahok-Djarot dicampurkan dengan konten hoaks.

"Sasarannya agar di-share kelompok ketiga. Ibu-ibu pasar, atau hanya followers saja yang sering like and share. Asal ada gambar, logo FPI, Rizieq Shihab, atau MCA, mereka mengganggap ini dari saudara kita maka di-share langsung tanpa pertanyaan," katanya.

Pola semacam ini pun diamini oleh juru bicara Mabes Polri Kombes Slamet Pribadi. Slamet mengatakan apa yang diungkapkan Ismail persis dengan analisis penyelidikan yang dilakukan kepolisian.

"Pilkada DKI Jakarta memang memberikan inspirasi kepada MCA dan model seperti ini diprediksi berlanjut ke pilkada serentak," kata Slamet.

Ia menambahkan kelompok Muslim Cyber Army pada dasarnya tak terorganisir secara struktural sebagaimana Saracen. Saracen menjalankan aksinya hanya atas pesanan, sementara MCA berlatar belakang politik.



Next article Next Post
Previous article Previous Post