Rabu, 14 Maret 2018

Kapolri Jelaskan Isu Penyerangan Ulama ke DPR. Bilang Begini....

Bruniq.com Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian memaparkan masalah isu penyerangan ulama kepada Komisi III DPR. Tito menegaskan pihaknya tengah menanganai isu tersebut secara proaktif.

"Yang sekarang sedang aktif kami tangani adalah masalah isu penyerangan terhadap ulama," kata Tito dalam rapat dengan Komisi III DPR di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Tito menjelaskan ada 47 kasus yang ditangani Polri terkait maraknya isu penyerangan ulama. 5 kejadian benar-benar kasus penyerangan ulama. Namun sisanya bukanlah penyerangan terhadap ulama.


"Ada 47 kasus. Kejadian yang terjadi ada itu 5 kasus," ujar Tito.

Namun Tito menyebut ada juga kasus yang faktanya direkayasa. Tito menerangkan rekayasa yang dimaksud adalah pelaku melapor ke polisi seolah-olah dirinya dianiaya.

"Tapi setelah dilakukan rekonstruksi, terjadi kejanggalan dan akhirnya mengakui bahwa tidak terjadi peristiwa itu," jelas Tito.


Dia menerangkan motif para pelaku adalah mencari perhatian karena masalah ekonomi. Tito membeberkan adanya sejumlah kasus penganiayaan dan korbannya bukan ulama, tetapi di media sosial diberitakan seolah-olah korbannya ulama.

"Motifnya rata-rata meminta perhatian karena masalah ekonomi. Kemudian ada sejumlah kasus yang korbannya bukan ulama tapi di media sosial diangkat seolah-olah itu adalah ulama. Ada 32 kasus," papar Tito.

"Jadi sebagian besar itu kasusnya tidak terjadi sama sekali. Tapi dibuat berita di media sosial seolah terjadi peristiwa. Kami di lapangan, kami belum menemukan adanya penyerangan sistematis terhadap tokoh agama, tempat ibadah atau ulama. Belum, belum bukan berarti tidak," sambung Tito.


Dia menambahkan belum ada bukti yang menunjukan adanya hubungan antara satu peristiwa penganiayaan ulama dengan peristiwa lainnya. Begitu juga dengan satu peristiwa rekayasa penganiayaan ulama dengan peristiwa lainnya.

"Kami tidak bisa menyimpulkan adanya koneksi dari kasus-kasus lain sehingga dianggap kasus yang sistematis. Tapi yang kita lihat sistematis adalah koneksi di udara, di media sosial yang menghubungkan dan menambah kasus-kasus tersebut sehingga terlihat seperti sistematis," sambungnya. 

Koneksi di udara yang dimaksud Tito adalah tindak penyebaran hoax, ujaran kebencian dan isu SARA yang dilakukan eks Saracen dan Muslim Cyber Army (MCA) di media sosial. 



Next article Next Post
Previous article Previous Post