Senin, 04 Desember 2017

Yenny Wahid: Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia Memprihatinkan. Menurut Anda?

Bruniq.com- Wahid Foundation bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survey untuk mengetahui potensi intoleransi dan radikal di Indonesia. Hasilnya, sebagaimana diungkapkan Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, keadaan Indonesia saat ini, apalagi dalam hal toleransi dan saling menghargai di Indonesia sangat memprihatinkan.

Berawal dari dirinya yang mencari gambar di search engine tentang toleransi Indonesia. Hal mengejutkan yang didapat, yaitu demo-demo saat masjid di Tolikara dibakar. Menurutnya, toleransi seperti berubah makna.

Dengan adanya survey ini, Wahid Foundation ingin mengetahui apa saja yang berkontribusi terhadap intoleransi dan radikalisme. Siapa di Indonesia yang masuk dalam kategori intoleran dan radikal. Hal yang dilakukan untuk mengurangi atau mengontrol kecenderungan beragama radikal dan intoleran.

Untuk radikalisme, seperti apa contoh yang pernah melakukan radikalisme. Apakah seperti melakukan penyerangan rumah ibadah umat lain atau demonstrasi.

"Kita lihat ternyata ada good newsnya, ada bad newsnya ibu-ibu," ungkap Yenny pada Simposium Nasional "Peran Ibu untuk Perdamaian" Senin (4/12).

Kabar buruknya, ada 0,4 persen dari penduduk Indonesia pernah melakukan tindakan radikal seperti yang didefinisikan. Selanjutnya yang bersedia bertindak radikal apabila ada kesempatan itu di angka 7,7%.

"Mungkin orang lihat cuma 0,4 persen kan sedikit. 7,7 persen kan sedikit. Tapi ketika kita proyeksikan terhadap penduduk Indonesia katakanlah 150 juta penduduk Indonesia, karena kita ngukurnya yang sudah dewasa atau sudah menikah, maka kita mendapatkan 600 ribu orang Indonesia pernah bertindak radikal dan sekitar 11 juta orang bersedia bertindak radikal kalau memungkinkan. Nah ini kan udah bikin merinding bu. Bikin merinding dengan data seperti ini," ungkap Yenny.

Namun, kabar baiknya adalah ada 72 persen menolak tindakan radikal. Karenanya Yenny optimis modal Indonesia untuk melawan radikalisme sungguh besar. Maka, Indonesia butuh bergandengtangan untuk mengupayakan hal ini.

Data seperti ini diperlukan untuk melakukan tindakan intervensi yang tepat. Karena menurut Yenny jika data ini tidak diketahui, orang tidak akan melakukan apa-apa. Akhirnya, kondisi negaralah yang akan semakin terpuruk.

"Mumpung baru 0.4 persen mari kita semua melakukan suatu hal tindakan supaya ini diperkecil dan tidak semakin melebar," kata Yenny.
Next article Next Post
Previous article Previous Post