Rabu, 06 Desember 2017

TEGAS!! Alasan Ini. Jokowi: Jangan Ulangi Kesalahan

Bruniq.com Bogor – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan seluruh jajaran pimpinan Kementerian/Lembaga dan para gubernur agar tidak mengulangi kesalahan dalam perencanaan, penganggaran, dan implementasi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Hal itu disampaikan Kepala Negara saat menyerahkan DIPA Tahun 2018 kepada 86 pimpinan K/L dan gubernur di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (6/12).


“Sangat kebangetan sekali kalau kita sudah tahu kalau itu keliru, kalau itu salah, masih kita ulang-ulang,” kata Kepala Negara.


Didampingi Wapres Jusuf Kalla, Presiden Jokowi mengatakan, tahun 2018 alokasi belanja negara mencapai Rp 2.220,7 triliun.


Ia mengatakan, seluruh jajaran pemerintah wajib mengawal penggunaan anggaran itu agar dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.


“Ini angka yang sangat besar. Oleh sebab itu, harus kita jaga bersama-sama baik dari sisi perencanaan, penganggaran maupun nantinya di dalam implementasi pelaksanaannya,” kata Presiden Jokowi.


Disebutkan, total DIPA yang diserahkan kepada 86 K/L jumlahnya mencapai Rp 847,4 triliun serta dana transfer ke daerah dan dana desa nilainya sebesar Rp 766,2 triliun. “Sekali lagi, angka ini adalah angka yang sangat besar. Oleh sebab itu perbaikan kualitas, yang salah satunya tentu saja dengan mempelajari persoalan-persoalan yang lalu supaya kita tidak ulangi lagi kesalahan-kesalahan yang ada,” katanya.


Presiden Jokowi juga secara khusus meminta jajaran pimpinan K/L dan pemerintah daerah melakukan penyederhanaan dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar berorientasi hasil, bukan prosedur.


Ia pun menceritakan pengalamannya saat menghadiri Hari Guru Nasional di Bekasi, Jawa Barat. Ia mengaku menerima tuturkan bahwa banyak guru saya mendapatkan keluhan dari para guru. Para guru mengeluhkan tentang rumitnya administrasi atau prosedur tunjangan, kenaikkan pangkat, sertifikasi, dan guru swasta.


Rumitnya administrasi dan prosedur, katanya, mengakibatkan para guru sulit berkonsentrasi pada kegiatan belajar mengajar.


“Ini saya kira tidak hanya untuk urusan guru saja tapi urusan-urusan yang lain kita masih terbelit-belit dengan hal yang seperti ini. Menghabiskan waktu, menghabiskan tenaga, menghabiskan pikiran, hanya ruwet muter-muter di urusan-urusan ini. Yang sampai hari ini belum bisa kita potong. Oleh sebab itu, segera semuanya, dari pusat, sampai ke daerah, sederhanakan ini,” katanya.
Next article Next Post
Previous article Previous Post