Senin, 27 November 2017

DENNY SIREGAR: LELAKI SEJATI ITU BERNAMA JOKOWI

Bruniq.com Selamat pagi, pakde Jokowi..
Melihat pidato-pidatomu beberapa hari ini, di acara Nasdem maupun di GMNI, aku mendengarkan pedihnya suara hatimu terhadap ketidak adilan di tanah kita selama ini..
Engkau bercerita tentang suatu negeri, dimana tanahnya gemah ripah loh jinawi, tetapi masih banyak penduduknya yang bahkan makanpun sekali sehari..
Engkau bercerita tentang bagaimana sekelompok orang, dengan kekuasaannya sekian puluh tahun lamanya, merampok memperkosa bahkan membunuh banyak manusia dengan merampas hak-hak hidup mereka, di atas kekayaan tanah mereka sendiri..
Negeri itu bernama Papua..
Engkau menyaksikan dengan kepala dan matamu, betapa sulitnya mereka hidup di negeri sendiri. Makanan mahal, bensin mahal, gelap gulita sepanjang malam, terasing ditengah hiruk pikuk pulau Jawa yang metropolitan.
Aku yakin engkau menangis di dalam hati, bapakku.. Seperti tangisan balita Papua ketika harga susu saja sulit terjangkau.
“Pantas mereka minta merdeka..” Begitu batinmu tertekan ketika menerima kenyataan bahwa siapapun yang terus menerus ditindas seperti itu pasti berteriak dan memberontak.
Siapapun, termasuk saya pastinya, karena itu hal yang sangat manusiawi..
Tapi engkau tidak lari dari kenyataan. Engkau juga tidak mengirimkan mesin perang untuk membungkam mereka.
Engkau malah mengucurkan dana triliunan rupiah dalam bentuk pembangunan jalan, listrik, subsidi, kesehatan dan segala macam yang engkau bisa..
Engkau mencabut kenikmatan yang selama ini kami nikmati di Jawa dan banyak propinsi lain yang sudah duluan mendapat perhatian.
“Lihat saudara-saudaramu di Papua. Tidakkah kalian malu berteriak listrik naik sekian ribu rupiah, sedangkan mereka disana puluhan tahun gelap gulita tetapi diam saja ?
Lihat saudara-saudaramu di Papua. Tidakkah kalian malu berteriak bensin naik lima ratus rupiah, sedangkan mereka disana membeli seliter seratus ribu tetapi puluhan tahun tetap diam saja ?”
Begitu pedih suaramu dalam pidato-pidatomu yang menampar logika-logika berfikir masyarakat manja yang selama puluhan tahun bodoh dan terbuai dengan subsidi.
Seharusnya kami malu karena lupa bahwa selama ini kami juga yang melupakan saudara-saudara kita sendiri.
Tetapi ada juga banyak orang yang malunya sudah hilang dan berteriak-teriak, “Jangan hilangkan kenyamanan yang kami dapat selama ini !!”
Bapakku Jokowi, terimakasih sudah mengingatkan kami untuk mulai berbagi, demi pemerataan, demi keadilan sosial yang sejak awal dicita-citakan pendiri bangsa ini.
Seandainya engkau ada disampingku saat ini, tentu sudah kusuguhkan engkau secangkir kopi yang kuseduh dari tanganku sendiri.
Sekedar sebagai rasa simpati sekaligus memberikanmu dukungan bahwa, “Engkau tidak sendiri.. Kami akan berada di belakangmu bersama-sama membangun negeri ini..”
Bapak Jokowi, mengawalmu sama dengan mengawal cita-cita bangsa ini..
Untuk menghormati semua gagasan besarmu, semua mimpimu, semua kinerjamu, ketegaranmu dalam menghadapi fitnah yang menghantammu, kuangkat secangkir kopi tinggi-tinggi..
Darimu, aku belajar bagaimana seharusnya sikap seorang lelaki sejati..
Next article Next Post
Previous article Previous Post