Sabtu, 25 November 2017

AMIN!! CAHAYA CINTA TJAHAJA PURNAMA ITU TETAP MAMPU MENERANGI DUNIA

Bruniq.com ”Kau berhasil mendapatkan rasa hormat atas pekerjaanmu, sebab kau bekerja bukan melulu untuk hidup, tapi untuk menunjukkan rasa cintamu pada sesama.”
Paulo Coelho
Tiga bulan lalu kutipan kata-kata Paulo Coelho itu menginspirasi tulisan berjudul ‘Menatap Cahaya Cinta Basuki Tjahaja Purnama’ (https://www.seword.com/spiritual/menatap-cahaya-cinta-basuki-tjahaja-purnama). Sebuah tulisan yang berisi kekaguman pada sosok Gubernur DKI, pengganti Jokowi. Tidak kagum bagaimana coba, ketika kita menyimak berita dari laman Kompas.comberjudul “Dari Penjualan Buku, Ahok Bantu Nenek Mimi dan yang Lain...” (http://megapolitan.kompas.com/read/2017/11/24/13075861/dari-penjualan-buku-ahok-bantu-nenek-mimi-dan-yang-lain).
Diberitakan, kalau Siti Bunga atau Nek Mimi masih mendapat bantuan setiap bulan dari Ahok. Saat Ahok masih menjabat gubernur, bantuan itu diberikan dengan menggunakan dana operasional. Nah, selepas menjabat dan dipenjara, bantuan itu ternyata tidak berhenti. Menurut salah seorang staf Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Nathanael Ompusunggu, bantuan tersebut salah satunya bersumber dari penjualan buku.
"Kan Pak Ahok ada hasil jualan buku. Ya, kami gunakan lagi dananya untuk bantu-bantu," ujar Nael ketika dihubungi Kompas.com pada Jumat (24/11/2017). Nek Mimi adalah warga Rusun Pesakih yang hidup sebatang kara. Setiap bulan, Nek Mimi mendapatkan uang Rp 500.000 dan bahan pokok, seperti beras, minyak goreng, gula, dan ikan kaleng.
Apakah hanya Nek Mimi yang mendapatkan bantuan? Ternyata tidak. "Masih banyak, tetapi enggak usah saya sebutkanlah (ada berapa), tidak usah," ujar Nael lagi.



Kita tahu, saat ini Ahok menghuni penjara. Tentu saja berbeda dengan saat menjabat gubernur yang memiliki dana operasional. Namun demikian, Ahok tidak lantas menyerah tanpa usaha. Rupanya, Ahok sangat mengerti makna dari sebuah tulisan suci. “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya ...” (Filipi 1:6).
Hal mana itu digenapi melalui upaya tanpa lelah orang-orang seperjuangan yang mengerti kerinduan terdalam Ahok. Buku tentang Ahok pun ditulis untuk diperjual-belikan. Harganya memang mahal, karena buku tentang Ahok itu bukan buku sembarangan. Buku itu adalah kehadiran cahaya purnama yang sesuai takdirnya harus menerangi kegelapan malam. Apalagi kegelapan yang muncul akibat jual beli ayat dan mayat. Kegelapan macam itu tidak boleh menguasai cakrawala pandang. Maka Sang Purnama harus terus menampakkan cahayanya. Paling tidak, melalui buku tentang Ahok dan hasil penjualannya yang diperuntukkan bagi Nek Mimi dan lainnya cukup membuktikan betapa Tjahaja Purnama tetap bersinar terang.
Penjara tetap tidak bisa menghentikan sinar Tjahaja Purnama untuk menerangi kesesatan berpikir. Karena, ia yang terpenjara itu tetap mampu mendorong lahirnya banyak perbuatan baik. Sekalipun kebaikan Ahok yang terpenjara itu tidak bisa berlari cepat. Maklum, Ahok memang bukan pelari. Apalagi pelari yang mampu bekejar-kejaran di padang pasir dengan onta betina. Bukan! Ahok menurut putusan pengadilan adalah penista agama. Namun, untuk melakukan kebaikan dan menebarkan cinta kasih pada sesama, tetap tidak kalah dengan para pembela agama.
Bahkan cinta Tjahaja Purnama itu telah melampaui batas-batas suku, agama dan ras. Karena itu sungguh sangat layak kata-kata Paulo Coelho di atas untuk Pak Ahok: ”Kau berhasil mendapatkan rasa hormat atas pekerjaanmu, sebab kau bekerja bukan melulu untuk hidup, tapi untuk menunjukkan rasa cintamu pada sesama.”
Sekalipun raganya terpenjara, jiwa dan cinta Tjahaja Purnama menemukan kebebasan untuk terus mengabdikan hidupnya. Ia memang dipenjara karena tuduhan sebagai penista agama, namun cinta Ahok untuk sesama tetap tidak bisa dipenjara. Cahaya cinta Sang Purnama tidak akan pernah bisa pudar karena hidup dan pengabdiannya digerakkan oleh cinta. Tepatlah bila dikatakan bahwa keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang-orang lain atas karya kita. Keberhasilan adalah buah dari benih yang kautanam dengan penuh cinta.

Menyadari hal ini, pantaslah bila Ahok berhasil mendapatkan rasa hormat atas pekerjaannya sebagai gubernur. Sebab, Ahok tidak bekerja melulu untuk hidup, tetapi sejatinya untuk menunjukkan rasa cintanya pada sesama. Nek Mimi dan yang lainnya tentu sangat paham dalam hal ini. Melebihi pemahaman seorang Firza, yang sampai kini masih harus menanti seorang diri, kepulangan dari Bang Toyib.
Next article Next Post
Previous article Previous Post