Home Djarot Mengejutkan!! Anies-Sandi Disebut Bakal Nganggur Selama 6 Bulan Setelah Dilantik, Ini Penjelasannya!

Mengejutkan!! Anies-Sandi Disebut Bakal Nganggur Selama 6 Bulan Setelah Dilantik, Ini Penjelasannya!

SHARE

Bruniq.com

 Gubernur  dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang segera dilantik, Anies Baswedan (Anies) dan Sandiaga Uno (Sandi), bakal menganggur selama enam bulan awal kepemimpinannya.

Penyebabnya, tak satu pun program Anies-Sandi masuk secara utuh ke APBD Perubahan 2017.

Anies Baswedan
Anies Baswedan

Wakil Ketua DPRD DKI Mohamad Taufik, membenarkan hal tersebut.

“Enggak ada yang masuk program Anies-Sandi,” kata Taufik kepada Wartakotalive.com, beberapa waktu lalu.

 

Menurut Taufik, eksekutif terlalu abai terhadap Anies-Sandi, sampai-sampai tak bersedia memasukkan satu pun program yang jadi janji politik Anies-Sandi.

“Seharusnya eksekutif memberi ruang buat Anies-Sandi memenuhi janji politiknya,” ujar Taufik.

Sandiaga Uno
Sandiaga Uno (INSTAGRAM)

Alasan dari Pemprov DKI, kata Taufik, program Anies-Sandi beririsan dengan program yang ada sekarang.

“Harusnya enggak begitu. Program itu kan ada namanya. Ya harus dibuat sesuai namanya. Enggak bisa disebut beririsan-beririsan begitu,” tutur Taufik. 

4 Janji Anies-Sandi yang Imposible

Gubernur DKI Jakarta (terpilih) Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (terpilih) Sandiaga Uno memiliki banyak janji terhadap warga Jakarta

Janji-janji itu disampaikan dalam berbagai kesempatan saat kampanye Pilkada DKI 2017.

Janji Anies-Sandi itu disampaikan baik pada kampanye putaran pertama maupun yang muncul kemudian pada putaran kedua.

Keduanya kini segera menjabat secara resmi sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI.

Karena itu, mereka pun harus segera merealisasikan janji-janji tersebut atau bakal ditagih oleh warga Jakarta, baik yang memilih pasangan ini maupun tidak memilihnya.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia Rezza Haryadi mengingatkan Anies-Sandi untuk menepati janji-janjinya.

Terutama, janji yang menyangkut kepentingan warga Jakarta dan banyak berpengaruh terhadap elektabilitasnya.

“Harus ditepati dong. Kalau tak ditepati ya harus bisa menjelaskan secara detail ke publik apa alasannya,” kata Rezza kepada Wartakotalive.com, kemarin.

Anies-Sandi setidaknya mengungkapkan 11 janji yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan khalayak warga Jakarta.

Janji-janji itu ada yang sifatnya sangat umum atau sulit diukur, terukur, dan sulit dilaksanakan karena berbagai hal.

Dalam pandangan Wartakotalive.com, sejumlah janji akan sulit dilaksanakan karena akan menghadapi berbagai tantangan.

Tantangan pertama adalah Anies-Sandi akan berhadapan dengan pemerintah pusat.

Tantangan kedua, Anies-Sandi akan kesulitan mencari sumber pendanaan.

Tantangan ketiga, Anies-Sandi akan terbentur pada regulasi yang sudah ada maupun birokrasi yang berbelit-belit.

Inilah Janji Anies-Sandi yang Sulit Dilaksanakan

1. Menghentikan Reklamasi Pantura

Salah satu janji yang cukup menyedot perhatian warga Jakarta adalah menghentikan megaproyek reklamasi Teluk Jakarta.

Proyek reklamasi telah berjalan, tidak hanya pada era pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, tetapi juga pada era gubernur pendahulunya.
Anies-Sandi akan kesulitan menghentikan secara menyeluruh kegiatan menguruk laut itu karena akan berhadapan dengan pemerintah pusat.

Menteri Koordinator Maritim Luhut Binsar Panjaitan secara terang-terangan meminta agar Anies-Sandi meninjau kembali rencana menghentikan reklamasi karena proyek itu dibutuhkan masyarakat.

Di samping itu, kebijakan itu pun akan berhadapan dengan para pemodal raksasa yang selama ini menguasai perekonomian Indonesia.

2. Rumah dengan DP Nol Persen

Banyak pihak menyebutkan, salah satu janji yang sangat ampuh dan mampu menyedot perhatian publik Jakarta adalah pembangunan rumah dengan uang muka (DP) nol persen.

Janji ini mampu meningkatkan elektabilitas Anies-Sandi terutama di kalangan masyarakat kelas menengah bawah, terutama di kalangan buruh.

Bukan rahasia lagi bahwa masih sangat banyak warga Jakarta yang belum memiliki tempat tinggal layak huni.

Tetapi persoalannya, membangun rumah dan kemudian menjualnya dengan DP nol persen di Jakarta sangat tidak logis.

Harga tanah di Jakarta sudah belasan juta rupiah. Biaya bangunan per meter persegi pun sudah di atas Rp 2 juta. Karena itu, Anies akan kesulitan mencari pemodal untuk membiayai program ini.

Pasangan Anies-Sandi pun sampai saat ini belum pernah menunjukkan secara lengkap model atau skema pembayaran rumah DP nol persen ini.

3. Membangun 200.000 Pengusaha (Wira Usaha) Baru.

Janji menciptakan para pengusaha baru di Jakarta banyak disampaikan oleh Sandiaga Uno yang memiliki latar belakang seorang pengusaha.

Dia secara gencar menyampaikan konsepnya itu lewat program Oke Oce.

Di Jakarta ada 44 kecamatan dan di setiap kecamatan akan dibangun setidaknya satu tempat mendidik calon pengusaha-pengusaha baru.

Cuma masalahnya, menjadikan seseorang sebagai pengusaha bukan semata-mata masalah permodalan saja.

Menjadi pengusaha juga bukan sekadar memberikan akses distribusi atau membangun menciptakan pasar.

Yang lebih penting dari itu semua adalah mengubah mindset. Cara pikir manusia yang dijadikan pengusaha itu harus berubah menjadi cara pikir seorang pengusaha.

Mindset buruh atau pekerja jika tidak diubah menjadi mindset seorang wirausaha tidak akan mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Mengubah tantangan menjadi peluang itu adalah syarat wajib agar sukses menjadi pengusaha.

Karena itu, mencetak 200.000 pengusaha dalam waktu 5 tahun bukanlah pekerjaan mudah bagi Bang Sandi dan timnya.

4. Integrasi Semua Moda Transportasi di Jakarta

Ini program yang menarik dan sangat menyedot perhatian tidak hanya warga Jakarta tetapi mereka yang beraktivitas di Ibu Kota.

Kenapa? Ya karena salah satu problem kronis di Jakarta adalah masalah kemacetan.

Untuk bisa mengurai kemacetan, salah satu solusi yang jitu adalah memindahkan penggunaan kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Tetapi, menjadikan semua moda transportasi di Jakarta terkoneksi menjadi satu juga bukanlah pekerjaan mudah.

Kita tahu, angkutan umum di Jakarta selama ini dikelola secara serampangan, tidak profesional, bahkan cenderung menggunakan pendekatan premanisme.

Pemilik angkutan umum tidak semuanya berbentuk badan usaha. Bahkan sebagian besar adalah milik perorangan.

Dan di sejumlah kawasan di Jakarta, angkutan umum justru dikuasai oleh angkutan ‘preman’ atau omprengan, kendaraan plat hitam.

Karena itu, menjadikan itu semua dalam satu jaringan yang terkoneksi, bahkan hanya menggunakan satu kartu untuk dipakai di semua angkutan, rasanya sebuah kemustahilan bisa teralisasi dalam waktu 5 tahun ini.

Itulah beberapa janji Anies-Sandi yang akan sulit dilaksanakan dan bisa jadi hanya sekadar PHP (pemberi harapan palsu).

Janji-janji lainnya adalah:

1. Memperluas manfaat Kartu Jakarta Pintar dalam bentuk Kartu Jakarta Pintar Plus, sehingga bisa digunakan pula oleh orang berusia 6-21 tahun yang tak sekolah, tapi memiliki keinginan mengikuti pelatihan keterampilan dan kursus.

2. Memperluas manfaat Kartu Jakarta Sehat dalam bentuk Kartu Jakarta Sehat Plus, dengan menambahkan fasilitas khusus untuk para guru mengaji, pengajar Sekolah Minggu, penjaga rumah ibadah, khatib, penceramah, dan pemuka agama.

3. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan dengan mengintegrasikan dunia usaha ke dalamnya, sehingga menghasilkan lulusan yang langsung terserap ke dunia kerja dan berwirausaha.

4. Memberi Kredit Usaha Perempuan Mandiri untuk memberdayakan perempuan di Jakarta.

5. Mengatasi kesenjangan ibu kota dengan menjadikan Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri dengan menyediakan infrastruktur, lapangan kerja, fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi segenap warganya, serta menjadikannya sebagai pusat inovasi konservasi ekologi.

6. Memperbaiki kesejahteraan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

7. Meningkatkan bantuan sosial untuk rumah ibadah, lembaga pendidikan keagamaan, lembaga sosial, Sekolah Minggu, dan Majelis Taklim berbasis asas proporsionalitas dan keadilan.

Loading...
Komentar Lewat Akun Facebook