Home Djarot Apakah Mampu? Ini 3 PR Utama Anies-Sandi dari Djarot

Apakah Mampu? Ini 3 PR Utama Anies-Sandi dari Djarot

SHARE

Bruniq.com

Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menyebut ada tiga persoalan pokok untuk gubernur dan wakil gubernur terpilih, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Tugas ini diharap bisa diselesaikan agar pembangunan Ibu Kota bisa berkesinambungan meski kepemimpinan berganti.

“Satu, masalah kemacetan,” kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin 9 Oktober 2017.

Djarot merasa, gubernur-gubernur di periode 2012-2017, sudah maksimal menata dan meletakkan dasar-dasar sistem transportasi publik, baik berbasis rel maupun bus rapid transit (BRT). Namun, waktu lima tahun dirasa belum cukup mengurai kemacetan Ibu Kota.

“Kami sudah berusaha mengintegrasikan sistem transportasi itu. Sehingga, kami harapkan lima tahun ke depan kemacetan Jakarta sudah terurai. Apalagi nanti akan kami pasang ERP (electronic road pricing),” jelas dia.

Masalah kedua, kata Djarot, adalah pemukiman. Perkara ini berkaitan dengan warga yang tinggal di bantaran sungai. Pemprov DKI Jakarta selama ini berusaha menertibkan mereka dengan merelokasi ke rumah susun.

“Dengan kondisi seperti ini diharapkan pembangunannya dilakukan secara vertikal untuk kemudian merelokasi mereka yang menempati tempat yang tidak sesuai dengan peruntukkannya,” terang dia.

Yang ketiga, masalah sampah di Jakarta belum teratasi sepenuhnya. Pembangunan intermediate treatment facility (ITF) di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang masih perlu dikembangkan.

“Makanya kami kebut betul dengan membangun ITF, baik dikerjakan oleh BUMD kami, Jakpro (Jakarta Propertindo), maupun dikerjasamakan dengan KBPU (kerja sama pemerintah dengan badan usaha). Ini kan mau kami mau dorong ke sana,” beber Djarot.

Selain tiga hal utama itu, Djarot mengingatkan soal penataan pedagang kaki lima (PKL) sekaligus pengembalian fungsi trotoar. Ia berharap Anies-Sandi juga dapat menuntaskan masalah ini.

“Kami sadar bahwa untuk menata Jakarta, mengubah Jakarta, itu lima tahun saja tidak cukup. Minimal sepuluh tahun. Dan tentunya harus tetap harus berlanjut untuk 15-20 tahun,” tukas mantan Wali Kota Blitar itu.

Loading...
Komentar Lewat Akun Facebook