Home Jokowi Ini Fakta-Fakta Tewasnya Saksi Kunci Korupsi E-KTP, Kronologi hingga Dugaan Halangi Pengusatan...

Ini Fakta-Fakta Tewasnya Saksi Kunci Korupsi E-KTP, Kronologi hingga Dugaan Halangi Pengusatan KPK

SHARE
Johannes Marliem

Bruniq.com
– Saksi kunci kasus dugaan korupsi KTP elektronik (e-KTP), Johannes Marliem dikabarkan tewas, Kamis (10/8/2017).

Untuk diketahui, Johannes merupakan provider produk automated fingerprint indentification system (AFIS) merek L-1 dari PT Biormorf Lone yang akan digunakan dalam proyek e-KTP.

 

Kabarnya, Johannes tewas karena bunuh diri disebuah rumah yang dia sewa di perumahan elit Los Angeles seharga US$ 25.000 per bulan.

Berikut ini fakta-fakta yang dihimpun oleh TribunWow.com terkait kematian Johannes dan hubungannya dengan kasus e-KTP.

1. Sosok Johannes Marliem

Johannes bekerja di Biomorf Lone LLC Amerika Serikat.

Perusahaan penyedia layanan teknologi biometric itu telah disebut 25 kali oleh Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat membacakan tuntutan terdakwa Irman dan Sugiharto, dalam kasus korupsi e-KTP.

Melansir dari Tribunnews.com, Johannes dikabarkan memiliki rekaman bukti keterlibatan Ketua DPR RI Setya Novanto di proyek e-KTP.

Bahkan rekaman percakapan itu mencapai ukuran 500 gigabyte.

Rekaman ini disebut-sebut bisa menjadi bukti kuat dalam persidangan kasus korupsi e-KTP yang merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun itu.

 

2. Kronologi kematian Johannes

Kabar kematian Johannes ini telah dikonfirmasi kebenarannya.

Namun hingga kini belum diketahui secara rinci bagaimana kronologi pasti kematian Johannes.

Dari kabar yang didapatkan oleh Tribunnews.com, di Los Angeles, AS, Kamis (10/8/2017) waktu setempat, sempat ada insiden seorang pria bersenjata membarikade dirinya di sebuah rumah di kawasan Beverly Grove.

Kejadian ini kemudian ditindak lanjuti oleh Kepolisian Los Angeles (LAPD).

Polisi menutup seluruh area di sekitar North Edinburgh Avenue dan mengevakuasi warga setempat.

Menurut LAPD, pria bersenjata tersebut sempat menyandera seorang perempuan dan seorang anak, yamg diduga merupakan istri dan anaknya sendiri.

Polisi kemudian mencoba untuk bernegosiasi dengan pria tersebut dan akhirnya kedua sandera dibebaskan.

Polisi kemudian merangsek masuk ke rumah tersebut.

Namun pria bersenjata itu ditemukan tewas di dalam rumah.

Kuat dugaan ia tewas akibat luka tembak karena bunuh diri.

Identitas pria tersebut masih dirahasiakan oleh pihak LAPD, namun diduga pria bersenjata itu adalah Johannes Marliem.

 

3. ICW : Kematian Johannes diduga untuk halangi pengusutan kasus e-KTP

Kematian Johannes ini sangat disayangkan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW).

ICW menduga, kematian Johannes ini ada kaitannya dengan upaya untuk menghalangi pengusutan kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi di negeri ini.

“Patut diduga hal ini merupakan upaya sistematis untuk menghalangi pengusutan lebih jauh kasus ini terutama terkait dengan aliran dana pada pejabat penting negeri ini,” ujar Koordinator Divisi Investigasi ICW, Febri Hendri kepada Tribunnews.com, Jumat (11/8/2017).

Namun ICW yakin jika KPK bisa menuntaskan kasus ini dengan menyiapkan bukti lain untuk menjerat para pelaku dan penerima aliran dana kasus e-KTP.

ICW juga berharap KPK dan LPSK mampu menjaga keselamatan dari para saksi kunci dalam setiap kasus korupsi, terutama kasus korupsi besar.

 

4. KPK harus minta otopsi terbuka kematian Johannes kepada otoritas Amerika Serikat

Kematian Johannes ini menjadi PR (pekerjaan rumah) KPK dalam mengevaluasi strategi penanganan kasus korupsi dan penjaminan keselamatan saksi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Peneliti Indonesian Legal Roundtable, Erwin Natosmal Oemar kepada Tribunnews.com, Jumat (11/8/2017).

“KPK harus mengevaluasi lagi strategi penanganan kasus dan keselamatan saksi-saksi mereka,” tegas Erwin.

Erwin juga berharap agar KPK meminta otopsi terbuka kepada pihak otoritas Amerika Serikat (AS) atas kematian Johannes supaya rantai pengusutan kasus korupsi e-KTP tak terputus.

Menurut Erwin, matinya saksi kunci akan menghambat KPK dalam menguak kasus sampai ke akar-akarnya dan sulit untuk menangkap aktor intelektualnya.

loading...
Komentar Lewat Akun Facebook