Home Jokowi Begini Cerita, Kisah Cinta Bung Karno dan Nenek Maia Estianty hingga Disebut...

Begini Cerita, Kisah Cinta Bung Karno dan Nenek Maia Estianty hingga Disebut ‘Janda Perawan’

SHARE
Instagram

Bruniq.com

JAKARTA – Siapa nyana, Siti Oetari Tjokroaminoto merupakan nenek dari penyanyi Maia Estianty.

Hal itu terungkap dalam postingan di akun jejaring sosial Instagram @maiaestiantyreal yang memajang foto Siti Oetari.

Bukan cuma itu, Siti Oetari merupakan istri pertama dari Presiden Pertama RI Soekarno.

“My grandmother, Oetari Tjokroaminoto, was the first wife of the first president of Republic Indonesia, Soekarno…. Nenek saya ini, Oetari Tjokroaminoto adalah istri pertama Presiden RI yg pertama, Soekarno. #maiaestianty #diarymaia #soekarno #istrisoekarno,” tulis @maiaestianty.

Kisah cinta antara Oetari dan Soekarno merupakan salah satu percintaan yang unik.

Keduanya bertemu di rumah ayah Oetari, Oemar Said Cokroaminoto.

Saat itu Soekarno yang masih mahasiswa memang tinggal kos di rumah HOS Cokroaminoto.

Seperti dikutip dari buku Istri-istri Soekarno (Reni Nuryanti dkk/2007), Bung Karno berusaha mendekati Oetari, yang dipanggilnya dengan sebutan Lak.

Hingga suatu ketika, dia mengajak anak sulung Tjokroaminoto itu jalan-jalan untuk menikmati senja.

Oetari diajaknya duduk.

Dipandangnya gadis manis itu dengan tatapan Soekarno yang tajam.

Dengan tersenyum perlahan, rayuan maut pun terucap dari lisan Putra Sang Fajar itu.

“Lak, tahukah engkau bakal istriku kelak?”

Oetari hanya menggeleng menanggapi pertanyaan itu.

Soekarno kemudian kembali bertanya, “Kau ingin tahu?”

Sedikit penasaran, Oetari pun bertanya, “Di mana?”

“Kau ingin tahu? Boleh… Orangnya dekat sini. Kau tak usah beranjak karena orangnya ada di sebelahku…” tutur Soekarno.

Oetari tidak menyangka dengan ucapan itu.

Dia hanya dapat tersenyum dan terdiam beberapa lama. Hingga sebuah kata pun terucap, “Aku juga mencintaimu,” ujar Oetari.

Janda perawan

Pada 1921 Sukarno menikahi Siti Oetari, putri kesayangan gurunya, HOS Tjokroaminoto.

Pernikahan ini hanya bertahan dua tahun, karena mereka bercerai pada 1923.

Sukarno bercerita, cintanya kepada Oetari sebenarnya bukan cinta seorang pria kepada wanita.

Namun lebih kepada rasa sayang seorang kakak kepada adiknya.

Dalam pengakuannya yang lain, seperti dituturkan Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno mengatakan, pernikahannya tersebut terjadi atas dasar balas budi terhadap Tjokroaminoto.

“Kami memilih kawin gantung. Orang Indonesia menjalankan cara ini karena beberapa alasan. Dalam hal kami, aku belum berniat hidup sebagai suami-istri, karena dia (Oetari) masih kanak-kanak,” cerita Bung Karno.

Ikhwal mula terjadinya pernikahan itu adalah ketika Istri Tjoktroaminoto meninggal dunia. Tjokroaminoto sangat berduka.

Hingga suatu hari, adik Tjokroaminoto menemui Sukarno dan berkata, “Sukarno, kau lihat bagaimana sedihnya hati Tjokroaminoto.”

“Apakah kau dapat berbuat sesuatu agar hatinya sedikit gembira?”

Sukarno pun bingung.

Bagaimana pula caranya membantu?

“Jadi menantunya. Oetari sekarang tidak punya ibu lagi. Tjokro sangat khawatir terhadap masa depan anaknya itu dan siapa yang akan menjaganya dan menyanginya. Inilah yang memberatkan pikirannya,” sambungnya lagi.

Tanp rasa birahi

Dalam perjalanan #Kisah Cinta Bung Karno, demi membalas budi, Sukarno lantas melamar Oetari.

“Sampai ia (Tjokroaminoto) meninggal, ia tidak pernah tahu bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanya karena aku sangat menghormatinya dan menaruh kasihan padanya,” ungkap Bung Karno kepada Cindy Adams.

Sukarno bahkan mengatakan tidak pernah ‘menyentuh’ Oetari.

Istrinya itu tetap dijaganya dalam keadaan suci.

“Kami tidur berdampingan di satu tempat tidur, tetapi secara jasmaniah kami sebagai kakak beradik,” ucap Sukarno.

“Bahkan kami satu sama lain sejujurnya tidak memiliki keinginan melakukan sebagai layaknya suami-istri. Maksudku, dia menyukaiku dan aku menyukainya, tapi perkawinan kami bukan didasari rasa birahi menyala-nyala.”

#Kisah Cinta Bung Karno memang unik.

Karena pengakuannya ini, kemudian muncul istilah janda perawan untuk Oetari.

Meski begitu, bukan berarti Sukarno tidak menyayangi Oetari.

Saat Oetari sakit, Sukarno panik dan merawat Oetari sepenuh hati.

Sukarno merasakan sayang, dan bukan birahi.

Namun tak semua orang percaya pengakuan Sukarno.

Penulis buku biografi Sukarno, Lambert Giebels, meragukannya.

Menurut Giebels, Oetari yang secara fisik memiliki daya tarik dan masih muda tidak mungkin didiamkan Sukarno.

“Bahwa apa yang dikatakan (Sukarno) pada otobiografi itu adalah penghinaan bagi Oetari yang manis dan menarik itu,” ucap Giebels, dikutip dari buku Istri-Istri Sukarno.

loading...
Komentar Lewat Akun Facebook